RM.id Rakyat Merdeka - Meski perekonomian jatuh akibat krisis pandemi Covid-9, namun sektor perumahan menjadi sektor yang mampu bertahan. Sehingga sektor perumahan menjadi pendukung ketahanan ekonomi nasional saat pandemi.
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono menuturkan, bisnis properti memiliki multiplier effect yang besar. Sektor ini menggerakan 170 industri lainnya.
"Secara universal sektor ini sangat penting. Saat masa pandemi Covid-19, salah satu sektor ketahanan ekonomi salah satunya adalah sektor properti. Pemerintah sudah dan akan terus memberikan insentif untuk keberlangsungan sektor ini," ujar Basuki dalam sambutannya yang diwakilkan Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Kementerian PUPR Eko D Heripoerwanto, di acara Webinar Nasional Jurnalisme Profesional Untuk Bangsa, bertajuk Peluang dan Tantangan Industri Properti Dalam Rangka Pemulihan Ekonomi Nasional, secara virtual, Rabu (30/6).
Namun, diakui Basuki, sektor properti masih menghadapi tantangan. Saat ini, persentase KPR ke PDB baru di angka 2,9 persen. Di mana angka ini masih rendah dibanding negara lain.
Baca juga : Kemnaker Bidik Sektor Perawat Dan Pengasuh Di Belanda
Masih banyaknya rumah tak layak dan backlog perumahan, maka pemerintah melaksanakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, meningkatkan rumah tangga yang layak dari 56 persen ke 70 persen.
"Untuk mencapai target tersebut, intervensi langsung dan tidak langsung. Langsung melalui pembangunan program perumahan, pembiayaan perumahan dan susbsidi pembiayaan perumahan, dengan akumulasi target 5 juta unit rumah," imbuhnya.
RPJMN PUPR menganggarkan subsidi perumahan untuk 1 juta rumah tangga. Untuk Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) 900 ribu unit, BP Tapera sebanyak 500 ribu, SMF 50 ribu sisanya BP2BT sampai akhir RPJMN di akhir 2024.
Sementara, realisasi FLPP senilai Rp9,39 triliun per 28 Juni 2021. Atau sebanyak 86.331 unit, setara dengan 54,81 persen dari target yang ditetapkan oleh pemerintah sebesar 157.500 unit.
Baca juga : Senator Filep Dorong Kejaksaan Lakukan Investigasi
Lima bank penyalur dana FLPP tertinggi dalam periode yang sama dicapai oleh BTN sebanyak 45.420 unit, BTN Syariah sebanyak 10.695 unit, BNI sebanyak 9.292 unit, BRI sebanyak 4.735 unit, dan BSI sebanyak 2.941 unit.
Di kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN, Haru Koesmahargyo mengatakan, di tengah perekonomian yang mengalami kontraksi, sektor perumahan menunjukkan pertumbuhan positif. Ini terlihat dari tumbuhnya KPR dibanding dengan pertumbuhan kredit lainnya di perbankan nasional.
Kredit nasional di akhir 2020, minus 2,4 persen bahkan hingga kuartal I-2021 masih minus 1,9 persen. Sementara KPR cenderung tahan dan tumbuh 3,6 persen di kuartal I-2021.
Sementara di BTN sendiri, hingga kuartal I-2021, KPR Subsidi masih tercatat menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan kredit BTN. KPR subsidi BTN tercatat naik 9,04 persen yoy menjadi Rp p122,96 triliun.
Baca juga : Mengandung Protein Tinggi, Permintaan Jamur Meningkat Di Tengah Pandemi
Untuk KPR Non-subsidi juga mulai menunjukkan peningkatan tipis di level 0,2 persen yoy menjadi Rp 80,15 triliun pada akhir Maret 2021. Secara total, pertumbuhan kredit di segmen perumahan tumbuh sebesar 3,23 persen yoy menjadi Rp 236,57 trilliun.
"Kami ikut mendorong penyediaan rumah di tengah angka backlog 11 juta rumah. Bantuan subsidi memudahkan bank penyalur memanfaatkan likuditas tersebut untuk disalurkan ke masyarakat," ucap Haru. [DWI]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.