RM.id Rakyat Merdeka - Kementerian Pertanian (Kementan) menelurkan program Taxi Alsintan sebagai upaya menghadirkan teknologi pertanian di tengah-tengah petani. Taxi Alsintan merupakan program penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan) secara mandiri oleh pelaku usaha di sektor pertanian melalui fasilitasi bantuan Kredit Usaha Rakyat (KUR).
"Di tengah kesulitan anggaran pemerintah dan pandemi Covid-19, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mendorong program Taxi Alsintan sebagai solusi dalam pemulihan ekonomi nasional," kata Direktur Alsintan Kementan Andi Nur Alam Syah dalam rapat kordinasi Taxi Alsintan di Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Selatan, Rabu (23/2).
Hadir dalam rapat koordinasi ini, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Sumsel, perwakilan Himpunan Bank Pemerintah (Himbara), Direktur Pembiayaan Bank Sumsel Antonius Prabowo, Direktur Pembiayaan Kementan Indah Megawati dan para petani.
Baca juga : Menparekraf: Peran Perempuan Milenial Penting Dorong Ekonomi Kreatif
Andi menjelaskan, Taxi Alsintan ini merupakan ide cemerlang dari Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo agar petani bisa dengan mudah memiliki alsintan tanpa harus lagi mengandalkan bantuan pemerintah. Program ini langsung diinisiasi oleh Menteri Syahrul dari pengalamannya ketika menjabat Bupati Gowa yang mendorong agar Taxi bisa dimiliki secara pribadi, bukan hanya perusahaan-perusahaan besar.
"Idenya dari situ bahwa masyarakat bisa memiliki sendiri, atau bersama-sama terhadap Taxi Alsintan yang pembiayannya melalui fasilitasi KUR," tuturnya.
Lebih lanjut, mantan Kepala Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian ini menjelaskan, Kementan saat ini memang tengah mengupayakan agar petani, kelompok tani maupun Unit Pengelola Jasa Alsintan (UPJA) bisa bertransformasi dalam menjalankan usahanya menjadi sebuah bisnis yang lebih modern. Dengan demikian, usaha tani menjadi lebih efisien. Keuntungan yang diterima pun menjadi berlipat.
Baca juga : DPR Minta Polisi Kaji Ulang Penetapan Tersangka Pelapor Korupsi
Khusus alsintan ini, lanjut dia, sebenarnya banyak negara yang mendorong penggunaan teknologi dalam pengolahan lahan hingga panen. Seperti Jepang, kini menjadi negara dengan dengan sepenuhnya mengandalkan mekanisasi.
Namun semuanya itu diraih dengan perjalanan yang cukup panjang hingga 50 tahun lebih. Pengalaman panjang ini kemudian membuat Jepang mulai membuat para petaninya tidak lagi mengandalkan bantuan alsintan dari pemerintah.
"Tapi apakah Jepang hari ini bantuan terhadap petaninya sudah tidak ada? Masih. Begitu pun kita. Tapi kita baru baru 7 tahun membangun mekanisasi pertanian kita tapi sudah bisa mentransformasi pertanian kita dari tradisional menjadi mekanisasi dan kita di ruangan ini adalah pelaku-pelakunya," jelasnya.
Buktinya, lanjut dia, nyaris tidak ada lagi petani yang menggunakan sistem pengolahan tanahnya menggunakan kerbau atau sapi. Begitu juga dengan panen. Rata-rata menggunakan mekanisasi pertanian. "Ini menandakan bahwa transformasi pertanian kita selama 7 tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo, sukses melancarkan program mekanisasi secara massive," katanya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.