BREAKING NEWS
 

KSP Pastikan Agenda Pembangunan Tetap Jalan Di Tengah Krisis

Reporter & Editor :
FAQIH MUBAROK
Senin, 17 Oktober 2022 17:31 WIB
Kepala Staf Kepresidenan Dr. Moeldoko. (Foto: Istimewa)

 Sebelumnya 
Ada pun terkait dengan persoalan kemiskinan dan kemiskinan ekstrem, terang Moeldoko, yakni dengan mengurangi beban pengeluaran dan meningkatkan pendapatan.

Untuk mengurangi beban masyarakat miskin dan miskin ekstrem, jelas dia, pemerintah menggelontorkan bantuan sosial, jaminan sosial, subsidi listrik dan LPG , dan melanjutkan jaring pengaman sosial Covid-19.

Sedangkan peningkatan pendapatan, dilakukan melalui pengembangan potensi BUMDES, pemberdayaan, transfer asset lahan sarana produksi dan ternak, serta akses modal dan pasar.

Baca juga : BRI Dorong Pertumbuhan Domestik Lewat UMKM

Tak cukup sampai di situ, ujar Moeldoko, pemerintah juga melakukan pengurangan kantong-kantong kemiskinan dengan mengatasi masalah ketepatsasaran bantalan sosial, melalui perbaikan dan pembaruan DTKS setiap bulan, penyusunan data sasaran, dan percepatan penghapusan kemiskinan ekstrem. Berbagai upaya tersebut, menurutnya, telah berhasil menurunkan angka kemiskinan.

Di mana, per Maret 2022 angka kemiskinan turun dari 9,71 menjadi 9,54 atau 26,16 juta orang. Sementara kemiskinan ekstrem, per 21 September 2022 turun menjadi 3,79 atau 1,38 juta orang dari sebelumnya 4.

Saat disinggung soal upaya dan capaian terkait pencegahan korupsi, Kepala Staf Kepresidenan tersebut menyatakan, pemerintah telah melakukan digitalisasi dalam pengadaan barang dan jasa. Perubahan skema belanja pemerintah secara digital itu, berdasar telah mampu mencegah kemahalan harga barang/jasa 10-15 persen (Stranas PK 2022).

Baca juga : Menpora Pastikan Piala Dunia U20 Pada Juni 2023 Tetap Digelar Di Indonesia

"Selain itu juga terjadi efiesiensi belanja pemerintah," ucap Moeldoko.

Di akhir paparannya, dia mengingatkan soal tantangan ke depan. Pada lingkungan global, Indonesia masih menghadapi situasi dan kondisi yang tidak pasti, krisis finansial, krisis pangan, krisis energi, dan krisis akibat perubahan iklim.

Sementara di dalam negeri, akan terjadi dinamika di tahun politik, dan potensi radikalisme akibat politik identitas.

Baca juga : Dirut BRI Tegaskan Komitmen Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional Di Tengah Ancaman Resesi Global

"Menjawab tantangan-tantangan tersebut, penting bagi kita semua untuk membangun awareness, gotong royong, dan resiliency," pungkasnya. ■

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense