RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau yang akrab disapa Zulhas diberi tugas khusus oleh Presiden Prabowo Subianto, yaitu mewujudkan swasembada pangan.
Ketua Umum PAN ini optimis, target tersebut bisa dicapai, meskipun tidak mudah. Kunci utamanya, sinergi antar Kementerian dan lembaga. Jika tim bekerja kompak, solid, dan bergerak seirama, Zulhas yakin target swasembada pangan akan tercapai lebih cepat. Bahkan, bisa terwujud dalam tiga tahun, atau pada 2028.
“Pesan dari Presiden Prabowo, yang penting harus ada will (kemauan) untuk berpihak pada rakyat. Baik itu petani padi, jagung, atau peternak sapi perah. Menteri harus turun langsung dan menyelesaikan masalah. Jadi, tidak ada yang sulit kalau kita ada kemauan,” kata Zulhas saat diwawancarai di kantornya, Graha Mandiri, Jakarta, Rabu (13/11/2024).
Zulhas didampingi oleh Staf Ahli Menko Pangan, Bara Krishna Hasibuan. Dari Rakyat Merdeka, hadir Kiki Iswara Darmayana (Direktur Utama/CEO Rakyat Merdeka Group), Ratna Susilowati (Direktur Pemberitaan), Firsty Hestyarini (Pemimpin Redaksi RM.id), dan Bambang Trismawan (Reporter), Khairizal Anwar (Jurnalis Foto/Video).
Baca juga : 2024, 8,8 Juta Orang Main Judol
Berikut kutipan wawancara dengan Zulhas, tokoh kelahiran Lampung Selatan 31 Agustus 1962 itu.
Selamat atas terpilihnya Bapak sebagai Menko Bidang Pangan. Apakah ada pesan khusus dari Presiden Prabowo terkait jabatan di Kabinet Merah Putih?
Terima kasih atas ucapannya. Tentu, Pak Presiden memberikan arahan. Salah satunya adalah untuk mewujudkan swasembada pangan, setidaknya swasembada beras dalam empat tahun ke depan. Jadi, pada 2028, diharapkan Indonesia sudah bisa mencapai swasembada pangan.
Apakah Bapak optimis swasembada pangan bisa tercapai?
Baca juga : Kunjungi Korban Erupsi Lewotobi, Gibran Dipelukin, Disalamin
Saya yakin bisa, bahkan dalam waktu tiga tahun saja.
Bagaimana cara mewujudkan swasembada dalam tiga tahun?
Ada dua pendekatan utama untuk mencapai swasembada. Intensifikasi dan ekstensifikasi. Intensifikasi berarti mengoptimalkan lahan sawah yang sudah ada. Misalnya, sawah tadah hujan yang irigasinya kurang baik perlu perbaikan jaringan irigasi.
Sawah-sawah yang terbengkalai harus diperbaiki agar produktif kembali. Lahan yang kekurangan pupuk perlu ditambah pasokan pupuknya. Intinya, kita fokus pada optimalisasi lahan yang ada. Di samping itu, juga diperlukan penyediaan benih unggul dan distribusi pupuk yang tepat sasaran.
Baca juga : Transaksi Penyelundupan Di RI Tembus Rp 216 Triliun
Pendekatan kedua adalah ekstensifikasi atau mencetak sawah baru. Untuk itu, kita perlu mengembangkan kawasan-kawasan tertentu, dengan membentuk klaster pertanian baru di Indonesia.
Di Jawa dan Sumatera, sudah hampir tidak mungkin mencetak sawah baru. Karena lahan sangat terbatas. Di Pulau Jawa, misalnya, sawah justru berkurang. Tingkat kepadatan penduduk dan industri juga semakin meningkat.
Karena itu, masa depan pertanian Indonesia ada di Papua, terutama di Merauke. Saat ini, sedang dikembangkan program cetak sawah baru dengan target mencapai 1 juta hektar.
Tahun depan, Menteri Pertanian (Amran Sulaiman) menargetkan paling tidak 150 ribu hektar sawah baru bisa dicetak.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.