BREAKING NEWS
 

Beras Sudah, Swasembada Energi Dinilai Masih Lama

Reporter : NUR ROCHMANNUDIN
Editor : SISWANTO
Senin, 28 April 2025 08:05 WIB
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. (Foto: Instagram/a.amran_sulaiman)

RM.id  Rakyat Merdeka - Keinginan Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia bisa swasembada pangan, khususnya beras segera terwujud. Lalu, bagaimana dengan target swasembada energi? Tampaknya, masih lama.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sampai April 2025 secara nasional mencapai 3,18 juta ton, tertinggi selama 23 tahun terakhir.

“Bisa jadi itu selama (Indonesia) merdeka,” cetus Amran di Jakarta, Sabtu (26/4/2025).

Bukan hanya memiliki stok beras yang belimpah, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional melonjak hingga 50-62 persen pada periode Januari-April 2025.

Atas capaian ini, Presiden sempat memerintahkan para menterinya untuk mengekspor beras ke negara yang membutuhkan. Namun, Amran masih menutup keran ekspor, dengan alasan kepentingan nasional. 

Baca juga : Wamenaker Jalan Santai Jelang Perayaan MayDay

Lalu, bagaimana dengan energi? Data 2024 menunjukkan, impor minyak mentah dan BBM masih menjadi kebutuhan utama. Meski volume dan harganya mengalami fluktuasi.

Impor minyak mentah turun. Namun, pembelian BBM dari negara lain melonjak signifikan. Total, impor minyak mencapai 53,74 juta ton di 2024, naik 19 persen dibandingkan tahun 2023.

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia terus berupaya mengembangkan Energi Baru Terbarukan (EBT). Salah satu fokusnya pada hidrogen, yang digadang-gadang sebagai energi alternatif masa depan.

Kata Bahlil, inisiatif ini merupakan bagian dari program Asta Cita yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, pengembangan energi hidrogen bukan sekadar tren, tapi bagian dari strategi besar menuju swasembada energi.

Adsense

“Ini menyangkut dengan swasembada energi dan memakai energi baru dan terbarukan,” ujarnya dalam konferensi pers Global Hydrogen Ecosystem 2025 Summit and Exhibition, di JCC, Jakarta, Selasa (15/4/2025).

Baca juga : Aria Bima: Negara Tak Boleh Kalah Sama Preman

Hidrogen bisa dihasilkan dari berbagai sumber daya lokal. Seperti batu bara, gas alam, bahkan air, melalui proses yang memanfaatkan EBT. Bahlil juga mengklaim, upaya bagian dari hilirisasi Sumber Daya Alam (SDA) yang digenjot Pemerintah.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menyebut, meski menjadi prioritas, swasembada energi masih dalam tahap implementasi strategi.

Kata Fabby, sejumlah strategi mengikuti strategi yang sudah ada sebelumnya. Yakni, yang tertuang dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN), dan tengah proses pembaharuan. Ada dua strategi yang ditempuh: diversifikasi dan konservasi energi.

Dalam hal diversifikasi energi. Pemerintah tengah mengembangkan pemanfaatan EBT untuk pembangkitan listrik dan pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (BBN)/Biofuel untuk substitusi BBM.

“Lalu ada strategi mendorong konservasi dan efisiensi energi dalam hal penggunaan energi. Ini sudah mulai dilaksanakan,” terang Fabby, saat dihubungi, tadi malam.

Baca juga : Tito Karnavian: Memang, UU Ormas 1998 Utamakan Kebebasan Sipil

Soal kapan Indonesia bisa swasembada energi, Fabby tak mau berandai-andai. Yang pasti, tidak dalam waktu dekat. “Saya tidak bisa menjawab pasti kapan karena permintaan energi akan terus bertumbuh, seiring dengan kemajuan ekonomi,” katanya.

Fabby memandang esensi dari swasembada energi adalah energi tersedia secara cukup dan dapat diakses dengan harga yang terjangkau. Pemerintah harus terus berupaya memenuhi kebutuhan energi yang akan terus meningkat.

Menurut Fabby, untuk mencapai swasembada energi perlu mengembangkan potensi sumber daya energi. Indonesia memiliki potensi sumber daya EBT yang besar dan cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan energi pada 2060 dan seterusnya.

Ada sejumlah upaya yang bisa dilakukan Pemerintah. Pertama, mengimplementasikan strategi KEN: diversifikasi dan konservasi energi. Kedua, memaksimalkan potensi EBT secara besar-besaran. Ketiga, libatkan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan energi. Keempat, Pemerintah perlu menciptakan iklim investasi yang baik.

“Pemerintah menciptakan kondisi yang memungkinkan investasi publik dan swasta untuk membangun infrastruktur energi bersih,” urai Fabby. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense