BREAKING NEWS
 

Presiden Prabowo Resmikan Kilang Balikpapan

Bahlil: Insya Allah, Kita Tidak Impor Solar Lagi

Reporter : NUR ROCHMANNUDIN
Editor : BAMBANG TRISMAWAN
Selasa, 13 Januari 2026 07:05 WIB
Presiden Prabowo Subianto (tengah) saat foto di depan kilang usai meresmikan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan di Kalimantan Timur, Senin (12/1/2026). Ikut mendampingi antara lain Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia (keenam kiri), Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi (kelima kanan), dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya (kedua kiri). Foto: Dok. Kementerian ESDM

RM.id  Rakyat Merdeka - Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan memberikan manfaat besar dalam memperkuat kedaulatan energi. Sebab, dengan pengoperasian kilang terbesar di Tanah Air tersebut, Indonesia tidak lagi impor solar dan memangkas impor produk bensin.

Peresmian RDMP dilakukan Presiden Prabowo Subianto di Kilang Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1/2026). Mega proyek ini menelan investasi sekitar 7,4 miliar dolar AS atau setara Rp 123 triliun.

Dengan diresmikannya RDMP Balikpapan, kilang milik PT Pertamina (Persero) tersebut kini menjadi kilang terbesar di Indonesia. Kapasitas pengolahannya meningkat dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari.

Baca juga : Yusril Bagikan 4 Jurus Untuk Aparatur Negara

“Tentunya saya menyambut bahagia dan sangat bangga atas peresmian hari ini. Terima kasih kepada seluruh unsur dan jajaran yang telah bekerja keras sehingga kita sampai pada titik ini. Ini prestasi yang sangat penting bagi bangsa,” ujar Prabowo dalam sambutannya.

RDMP Balikpapan merupakan kilang terbesar sepanjang sejarah. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memaparkan nilai historis pembangunan dan manfaatnya untuk negeri.

Menurut Bahlil, proyek ini menjadi RDMP pertama yang diresmikan di Indonesia dalam 32 tahun terakhir. Sebelumnya, Pertamina terakhir kali merampungkan RDMP di Kilang Balongan pada 1994.

Baca juga : DPR Minta Keselamatan WNI Di Iran Diprioritaskan

Bahlil menjelaskan, RDMP Balikpapan dibangun sebagai satu ekosistem terintegrasi. Proyek ini terhubung dengan Terminal Minyak Lawelawe melalui jaringan pipa Senipah–Balikpapan sepanjang 78 kilometer.

Dengan mulai beroperasinya RDMP Balikpapan, Bahlil memastikan Pemerintah tidak akan lagi menerbitkan izin impor solar (gasoil) CN 48 mulai awal 2026. Disusul penghentian impor solar CN 51 pada semester II 2026.

“Begitu diresmikan, Insya Allah tahun ini kita tidak lagi melakukan impor solar. Ini bagian dari upaya mendorong kedaulatan energi agar pemenuhan BBM dalam negeri tidak lagi bergantung pada impor,” ujar Bahlil, kepada awak media sesaat sebelum peresmian.

Baca juga : Pilkada Langsung Vs Pilkada Via DPRD, Bawaslu: Dua-duanya Sama-sama Demokratis

Bahlil memaparkan, kebutuhan solar nasional saat ini mencapai sekitar 39,8 juta kiloliter (KL) per tahun. Dari jumlah tersebut, program biodiesel B40 menyumbang pasokan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) sekitar 15,9 juta KL per tahun, sehingga kebutuhan solar murni (B0) tersisa sekitar 23,9 juta KL per tahun.

Adsense

Sementara itu, produksi solar nasional kini telah mencapai 26,5 juta KL per tahun. Dengan kondisi tersebut, Pemerintah menargetkan penghentian impor solar, baik CN 48 maupun CN 51 mulai pertengahan 2026.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense