Sebelumnya
Sementara itu, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian, Agung Sunusi, menegaskan bahwa program P2B dirancang tidak hanya untuk meningkatkan produksi sayuran, tetapi juga memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga petani.
“Tujuan P2B ini agar anggota, terutama ibu-ibu, tidak perlu lagi membeli sayur di pasar. Kalau sudah panen, minimal bisa mencukupi kebutuhan sendiri,” jelas Agung.
Baca juga : Bali United Tantang Persik Kediri dengan Modal Rekor Tandang Positif
Selain itu, hasil panen juga diarahkan untuk memasok kebutuhan pangan pondok pesantren terdekat sebagai bentuk kemitraan lokal.
Agung menyebut, setiap kelompok tani menerima bantuan senilai sekitar Rp12,3 juta, berupa ratusan polybag cabai, benih sayuran, bibit pisang dan jagung, pupuk, hingga sarana pengendalian hama.
Baca juga : Material Sudah Siap, Pemasangan Jembatan Bailey di Aceh Terus Dikebut
Ia menekankan pentingnya perawatan berkelanjutan agar hasil program benar-benar optimal.
“Kalau ini dikelola dengan baik dan dianggap berhasil, pemerintah tentu akan menambah kegiatannya. Tapi kuncinya tetap swadaya dan integrasi dengan sumber daya lokal,” tuturnya.
Baca juga : Progres Pesat Pembangunan Jembatan di Aceh, Akses Warga Desa Kian Pulih
Dengan melibatkan ribuan kelompok tani di seluruh Indonesia, program P2B diharapkan menjadi model pemberdayaan masyarakat berbasis pekarangan yang berkelanjutan.
Di tangan petani, ibu-ibu rumah tangga, dan komunitas pesantren, diharapkan lahan tidur dapat berubah menjadi sumber pangan, pendapatan, dan harapan baru bagi kesejahteraan warga.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.