BREAKING NEWS
 

Pernyataan Pemerintah Tentang Kondisi Terkini

Ekonomi Januari–Maret Tumbuh Minimal 5,5%

Reporter : KHOIRUL UMAM
Editor : ADITYA NUGROHO
Jumat, 24 April 2026 08:07 WIB
Foto: Kemenko Perekonomian

RM.id  Rakyat Merdeka - Kondisi ekonomi nasional pada periode Januari–Maret 2026 menunjukkan kinerja positif di tengah dinamika global. Pemerintah memprediksi ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tumbuh minimal 5,5 persen.

Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Airlangga mengatakan, meskipun masih menunggu rilis resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS), indikator fundamental menunjukkan tren pertumbuhan yang solid. “Beberapa kali kami memprediksi pertumbuhan di kuartal I secara fundamental cukup baik, dan angkanya lebih besar atau sama dengan 5,5 persen,” ujar Airlangga.

Ia mencontohkan, sejumlah faktor penopang pertumbuhan pada kuartal I, seperti konsumsi rumah tangga yang tetap terjaga, penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR), serta akselerasi belanja dan stimulus pemerintah yang mencapai Rp809 triliun.

Memasuki kuartal II, pemerintah juga menyiapkan berbagai langkah lanjutan agar ekonomi nasional tetap tumbuh, antara lain penyaluran gaji ke-13 pada Juni dan penguatan program perlindungan sosial.

“Kami akan mencari berbagai langkah yang dapat menopang pertumbuhan kembali,” ungkap Airlangga.

Baca juga : Purbaya: Kondisi Keuangan Aman, Kita Tak Butuh Utang IMF Dan Bank Dunia

Selain konsumsi, sektor investasi dinilai menjadi salah satu motor utama perekonomian tahun ini. Pemerintah terus mendorong percepatan realisasi investasi melalui Satuan Tugas Percepatan Program Pemerintah yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 2026.

“Upaya debottlenecking juga didorong sehingga investasi yang sudah masuk bisa menjalankan usaha sesuai rencana,” ujar Airlangga.

Ia menegaskan, target realisasi investasi tahun ini sebesar Rp 2.041,3 triliun menjadi faktor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. “Pertumbuhan investasi dengan target lebih dari Rp 2.000 triliun bukan angka kecil. Ini pengungkit perekonomian yang harus dijaga bersama,” tegasnya.

Secara keseluruhan, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dapat mencapai minimal 5,4 persen meskipun di tengah ketidakpastian global.

Adsense

Pada kesempatan yang sama, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani mengungkapkan, arah investasi yang semakin menguat ke sektor hilirisasi. “Kontribusi investasi di sektor hilirisasi cukup signifikan, mencapai 29,6 persen pada kuartal I,” kata Rosan.

Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, investasi hilirisasi tumbuh 8,2 persen. Hal ini menunjukkan kebijakan hilirisasi mulai memberikan dampak nyata terhadap perekonomian.

Baca juga : Ketemu Luhut, Prabowo Bahas Geopolitik-Ekonomi

Rosan menjelaskan, sektor hilirisasi masih didominasi industri berbasis mineral dengan nilai mencapai Rp 98,3 triliun, meliputi komoditas nikel, tembaga, besi, baja, bauksit, dan timah. Selain itu, investasi juga mulai mengalir ke sektor perkebunan dan kehutanan sebesar Rp 29,5 triliun, dengan komoditas seperti kelapa sawit, kayu, dan karet.

Sektor minyak dan gas bumi turut berkontribusi sebesar Rp 17,7 triliun. Sementara sektor perikanan dan kelautan masih relatif kecil, yakni sekitar Rp 1,7 triliun, namun diproyeksikan meningkat ke depan.

Secara geografis, investasi hilirisasi didominasi wilayah luar Jawa dengan nilai sekitar Rp 111,4 triliun atau 75,5 persen dari total investasi hilirisasi. Adapun di wilayah Jawa tercatat sebesar Rp 36,1 triliun.

Kawasan seperti Sulawesi Tengah dan Maluku Utara menjadi pusat utama investasi hilirisasi. Kedua daerah tersebut memiliki sumber daya alam sebagai bahan baku industri, terutama mineral.

Rosan menilai dominasi hilirisasi di luar Jawa menjadi indikator bahwa pemerataan investasi mulai berjalan. “Harapan kami, kontribusi hilirisasi ini terus meningkat,” imbuh Rosan.

Keluar Dari “Kutukan” 5 Persen

Terpisah, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis, Indonesia mulai keluar dari tren pertumbuhan stagnan di kisaran 5 persen. Purbaya menilai capaian pertumbuhan sebesar 5,39 persen menjadi sinyal kuat perbaikan kinerja ekonomi.

Baca juga : Harga Di Produsen Naik, Pemerintah Pastikan Harga Daging Sapi-Kerbau Stabil

“Hampir pasti kita sudah lepas dari ‘kutukan’ pertumbuhan 5 persen,” ujar Purbaya, Rabu (22/4/2026).

Menurutnya, capaian tersebut cukup menggembirakan di tengah tekanan global, seperti fragmentasi rantai pasok dan suku bunga global yang masih tinggi. “Kondisi global masih penuh tantangan, banyak negara mengalami perlambatan ekonomi,” jelasnya.

Meski demikian, pemerintah akan terus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. “Ke depan kita harus bisa tumbuh lebih cepat dari 5 persen. Kita dorong hingga bisa mencapai 6 persen,” tukas Purbaya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense