Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Harga Di Produsen Naik, Pemerintah Pastikan Harga Daging Sapi-Kerbau Stabil
Kamis, 23 April 2026 07:50 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Harga daging sapi dan kerbau di tingkat produsen mulai mengalami kenaikan. Kendati demikian, Pemerintah memastikan kenaikan tersebut tidak akan menjalar ke tingkat konsumen. Harga daging sapi-kerbau akan tetap stabil.
Keputusan itu diambil dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Rabu (22/4/2026). Rapat dipimpin Menko Pangan Zulkifli Hasan dan dihadiri Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Menteri Perdagangan Budi Santoso, serta jajaran BUMN pangan.
Dalam rapat itu, pemerintah memutuskan menaikkan Harga Acuan Penjualan (HAP) sapi hidup di tingkat produsen serta menyesuaikan harga daging kerbau di tingkat konsumen. Kebijakan ini dilakukan guna merespon atas dinamika global, termasuk dampak konflik geopolitik di Timur Tengah yang turut mendorong kenaikan biaya logistik dan harga komoditas impor.
“Beberapa pangan impor itu melakukan penyesuaian. Misalnya sapi, sapi hidup, tapi masih dalam batas harga eceran tertinggi, hanya sedikit,” ujar Zulhas, sapaan akrabnya, usai rapat di kantornya, Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Melihat kondisi tersebut, pemerintah menaikkan HAP sapi hidup di tingkat produsen dari kisaran Rp 56.000–Rp 58.000 menjadi sekitar Rp 59.000 per kilogram (kg). “Itu ada penyesuaian kira-kira seribu rupiah,” sebut Zulhas.
Baca juga : Trump Perpanjang Gencatan Senjatan, Iran Tetap Siaga
Meski terjadi kenaikan di tingkat produsen, pemerintah memastikan harga daging sapi di pasar tetap stabil dan masih berada dalam kisaran Harga Eceran Tertinggi (HET).
Zulhas menegaskan, pemerintah tidak mengubah batas atas harga daging sapi di tingkat konsumen demi menjaga daya beli masyarakat.
“Misalnya harga di pasar itu kan antara Rp 130 ribu maksimal Rp 140 ribu per kg. Masih dalam kisaran HET, jadi itu masih tidak ada perubahan,” tegas Ketua Umum PAN tersebut.
Selain daging sapi, pemerintah juga menyesuaikan harga daging kerbau beku di tingkat konsumen. Harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp 80.000 per kilogram kini bergerak ke sekitar Rp 90.000 per kilogram.
Menurut Zulhas, penyesuaian ini dipicu pergeseran perilaku konsumen yang beralih ke daging kerbau saat harga daging sapi mengalami kenaikan. “Karena kalau daging ini agak naik biasanya orang pindah yang murah sehingga permintaan daging kerbau itu meningkatnya luar biasa,” jelasnya.
Baca juga : 3 Kloter Perdana Jemaah Haji Indonesia Tiba Di Madinah
Ia menambahkan, penyesuaian harga tersebut dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan di pasar. “Ini dari harga eceran tertinggi Rp 80 ribuan, berubah menjadi sekitar Rp 90 ribuan. Jadi bisa di bawah itu,” kata Zulhas.
Sebelumnya, Kementerian Pertanian (Kementan) juga telah memberikan peringatan terkait lonjakan harga sapi bakalan impor dari Australia yang melampaui asumsi normal. Kondisi ini dinilai berpotensi menekan pelaku usaha dan berdampak pada harga daging, khususnya di wilayah yang bergantung pada pasokan impor seperti Jabodetabek.
Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan Makmun mengungkapkan, kenaikan harga sapi di negara asal sudah terjadi cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
“Ini menjadi warning juga buat kita semua. Karena harga sapi di Australia itu sudah naik,” ungkap Makmun dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang disiarkan melalui YouTube Kemendagri, Senin (20/4/2026).
Menurutnya, angka tersebut jauh di atas tren historis. Sementara itu, harga sapi bakalan jantan juga mengalami kenaikan. Berdasarkan perhitungan Kementan, kenaikan harga tersebut berdampak langsung pada nilai CIF (Cost, Insurance and Freight) hingga harga landed di Indonesia.
Baca juga : Maman Imanul Haq: Keluarga, Benteng Utama Pengawasan
Setelah memperhitungkan ongkos kirim, asuransi, kurs, serta biaya penanganan dan kehilangan, harga sapi bakalan impor tercatat jauh di atas HAP yang berada di angka maksimal Rp 58.000 per kg.
Ia menilai kondisi ini menjadi tantangan bagi pelaku usaha karena disparitas harga yang cukup lebar.
Kementan mendorong Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk segera mengambil langkah penyesuaian kebijakan.“HAP-nya Rp 58.000 per kg hidup maksimal. Sementara harga belinya teman-teman (importir) ini sudah sangat tinggi,” ujarnya. [BYU]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya