RM.id Rakyat Merdeka - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meningkatkan kewaspadaan untuk mencegah masuknya Hantavirus ke Indonesia. Sebanyak 51 Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) disiagakan di bandara dan pelabuhan internasional untuk memperketat pengawasan pelaku perjalanan dari luar negeri.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Andi Saguni mengatakan, langkah utama yang dilakukan Pemerintah saat ini adalah memperkuat surveilans di pintu masuk negara, serta meningkatkan kapasitas laboratorium nasional.
“Nah, hal yang paling penting adalah dilakukan surveilans. Kemudian penguatan sumber daya dan juga kapasitas dari laboratorium,” kata Andi dalam konferensi pers daring di Jakarta, Senin (11/5/2026).
Menurut Andi, pengawasan dilakukan melalui thermal scanner, pengamatan visual, hingga pemantauan menggunakan aplikasi All Indonesia.
“Pelaku perjalanan baik melalui bandara maupun pelabuhan laut dilakukan screening seperti ini,” ujarnya.
Selain pengawasan di pintu masuk negara, Kemenkes juga mengaktifkan surveilans sentinel penyakit infeksi emerging di 21 rumah sakit rujukan. Langkah ini dilakukan untuk mendeteksi pasien dengan gejala yang mengarah pada infeksi hantavirus.
Pemerintah juga memperkuat pemantauan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) serta platform New All Record (NAR). Seluruh data laboratorium diintegrasikan agar setiap kasus dapat dipantau secara real time.
Baca juga : Komisi II Bahas Sanksi Pelaku Money Politics
Andi menegaskan, Pemerintah juga menyiapkan rumah sakit rujukan, pelatihan tenaga kesehatan, workshop, hingga pedoman penanganan penyakit infeksi emerging.
Selain memperketat pengawasan, Kemenkes meminta masyarakat menjaga kebersihan lingkungan untuk mencegah penularan virus yang sumber infeksinya berasal dari tikus.
“Yang harus diperhatikan adalah kebersihan lingkungan. Tikus jangan sampai berkeliaran karena sangat berkaitan dengan penularan hantavirus,” katanya.
Dia mengingatkan masyarakat lebih waspada saat terjadi banjir. Sebab, kondisi lingkungan yang kotor dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit menular seperti hantavirus dan leptospirosis.
“Kalau banjir jangan malah dijadikan tempat bermain. Itu berisiko menularkan penyakit,” ujarnya.
Andi menjelaskan, Indonesia sejauh ini belum pernah melaporkan kasus Hanta Pulmonary Syndrome (HPS), jenis hantavirus yang ditemukan dalam klaster kapal pesiar MV Hondius.
Kasus hantavirus global tersebut bermula dari klaster penyakit pernapasan akut di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar lintas Atlantik dan Afrika. Virus yang teridentifikasi adalah strain Andes dengan tingkat kematian cukup tinggi.
Baca juga : Desa Jadi Pemasok Utama Bahan Baku Program MBG
Meski begitu, Kemenkes memastikan hasil pemeriksaan seorang warga negara asing yang tinggal di Jakarta dan sempat berkontak erat dengan penumpang kapal pesiar tersebut dinyatakan negatif hantavirus.
Andi mengatakan, pria berinisial KE (60) itu tetap dipantau di RSPI Sulianti Saroso meski tidak menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan.
“Dalam waktu kurang dari 24 jam sejak notifikasi diterima, investigasi sudah dilakukan. Kondisi pasien sehat dan tidak ada gejala mengkhawatirkan,” katanya.
Kemenkes juga meminta masyarakat tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan, mengingat tingkat fatalitas kasus dalam klaster global hantavirus dilaporkan mencapai 37,5 persen.
Kemenkes mencatat, kasus positif hantavirus di Indonesia mencapai 23 orang sepanjang 2024 hingga 2026. Dari jumlah tersebut, tiga pasien dilaporkan meninggal dunia. Data Kemenkes menunjukkan, kasus positif ditemukan dari total 251 kasus suspek yang diperiksa. Sebanyak 20 pasien lainnya dinyatakan sembuh.
Kasus hantavirus tersebar di sejumlah daerah. Di antaranya di Yogyakarta, Jawa Barat, DKI Jakarta, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Barat, Banten, Jawa Timur, hingga Kalimantan Barat.
Merespons temuan itu, Pemerintah memperkuat langkah antisipasi. Mulai dari skrining di pintu masuk negara, penguatan surveilans rumah sakit, hingga penyiapan rumah sakit rujukan dan laboratorium pemeriksaan.
Baca juga : Hindari Kecurigaan Publik, Golkar Harap RUU Pemilu Tetap Jadi Inisiatif DPR
Juru Bicara Kemenkes Widyawati mengatakan, pengawasan terhadap pelaku perjalanan internasional masih dilakukan melalui thermal scanner di bandara dan pelabuhan.
“Screening gejala pada pelaku perjalanan di pintu masuk negara melalui thermal scanner saat ini masih terus berlanjut,” ujar Widyawati dalam keterangannya, Sabtu (9/5/2026).
Selain thermal scanner, Kemenkes juga melakukan pengamatan visual terhadap pelaku perjalanan serta memanfaatkan aplikasi pemantauan kesehatan. Pemerintah juga menyiapkan surveilans sentinel di 21 rumah sakit untuk mendeteksi potensi kasus lebih dini.
Di sisi layanan kesehatan, Kemenkes memastikan sebanyak 198 rumah sakit jejaring pengampuan infeksi emerging telah disiapkan untuk penanganan hantavirus.
Widyawati menjelaskan, gejala hantavirus yang saat ini menjadi perhatian berasal dari tipe HFRS (Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome). Gejalanya antara lain demam, sakit kepala, nyeri badan, lemas, hingga tubuh terasa sangat tidak nyaman. JAR
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 4, edisi Selasa, 12 Mei 2026 dengan judul "Cegah Hantavirus Masuk RI Kemenkes Siagakan 51 Balai Karantina"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.