RM.id Rakyat Merdeka - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq mengajak seluruh pemangku kepentingan pendidikan menggeser orientasi dari kuantitas menuju kualitas. Menurutnya, lompatan mutu pendidikan hanya bisa dicapai melalui budaya ihsan, budaya mutu, dan pembelajaran mendalam (deep learning).
Pesan itu disampaikan Fajar saat bersilaturahmi dan berdialog dengan jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Garut, Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Nonformal (PNF), kepala sekolah, guru, serta pengelola amal usaha pendidikan Muhammadiyah se-Kabupaten Garut, Sabtu (6/6/2026).
Fajar mengatakan, tantangan pendidikan nasional masih cukup besar. Salah satunya terlihat dari rata-rata lama sekolah yang masih rendah serta angka putus sekolah yang perlu terus ditekan.
"Setiap kebijakan pendidikan harus memberi ruang yang sama bagi sekolah negeri maupun swasta. Ini bukan soal siapa yang berada di pemerintahan, tetapi amanat konstitusi bahwa seluruh anak Indonesia berhak memperoleh pendidikan yang bermutu," ujarnya.
Menurut Fajar, Muhammadiyah memiliki modal historis dan sosial yang kuat untuk menjadi mitra strategis pemerintah dalam memperluas akses sekaligus meningkatkan mutu pendidikan. Namun, ia mengingatkan agar semangat kemandirian organisasi tetap dijaga.
Baca juga : Pertamina Patra Niaga Perkuat Ketahanan Pangan Lewat Pemberdayaan Masyarakat
"Jangan sampai keberadaan tokoh Muhammadiyah di pemerintahan justru mengurangi semangat kemandirian gerakan. Kemandirian, konsistensi, dan kemampuan beradaptasi itulah yang membuat Muhammadiyah mampu bertahan dan memberi manfaat bagi bangsa selama lebih dari satu abad," katanya.
Fajar menegaskan, dunia pendidikan perlu mulai meninggalkan paradigma yang hanya mengejar angka dan jumlah. Fokus utama harus diarahkan pada kualitas proses belajar yang berdampak nyata bagi peserta didik.
"Mari pelan-pelan menggeser orientasi dari kuantitas menuju kualitas. Bangun budaya mutu dan budaya ihsan. Yang paling berat bukan mencapai keunggulan, tetapi menjaga keunggulan itu secara berkelanjutan," tegasnya.
Terkait konsep pembelajaran mendalam, Fajar menjelaskan proses belajar tidak boleh berhenti pada hafalan. Siswa harus mampu memahami, menerapkan, dan merefleksikan ilmu yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.
"Anak-anak tidak cukup hanya mengetahui. Mereka harus memahami makna dari apa yang dipelajari, menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari, lalu mampu menggunakannya untuk menghadapi persoalan kehidupan," jelasnya.
Baca juga : Pasca-Waisak, Wamen Fajar Dorong Pendidikan Karakter di Sekolah Maitreyawira
Karena itu, guru dituntut menjadi arsitek pembelajaran yang mampu menciptakan pengalaman belajar aktif, kreatif, dan bermakna. Siswa juga perlu dibiasakan bertanya, berpikir kritis, mengolah informasi, dan melahirkan gagasan.
Usai berdialog dengan keluarga besar Muhammadiyah Garut, Fajar mengunjungi SMA dan Pesantren Welas Asih Garut. Di sana, ia berdiskusi langsung dengan para siswa mengenai proyek pembelajaran, pengembangan karakter, hingga rencana bisnis yang mereka susun.
Fajar mengaku terkesan dengan perkembangan sekolah tersebut. Menurutnya, Welas Asih berhasil membangun ekosistem pendidikan yang mendorong kreativitas, kepemimpinan, dan kemandirian siswa.
"Saya banyak belajar dari paparan adik-adik semua. Apa yang saya lihat di sini menunjukkan bahwa pembelajaran mendalam bukan sekadar konsep, tetapi telah dipraktikkan dalam proses belajar sehari-hari," ujarnya.
Ia juga memuji kemampuan siswa dalam menyusun proyek kewirausahaan dan perencanaan usaha.
Baca juga : Lana Koentjoro: Perempuan Indonesia Harus Terkoneksi Dengan Jejaring Dunia
"Ketika saya melihat rencana bisnis yang disusun, termasuk rincian dan perhitungannya, saya melihat kemampuan yang sangat baik. Bahkan ada yang sudah mendekati cara berpikir mahasiswa," katanya.
Menurut Fajar, SMA Welas Asih menjadi contoh bahwa pendidikan bermutu tidak hanya menghasilkan siswa yang menguasai materi pelajaran. Lebih dari itu, pendidikan harus mampu membentuk karakter, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, dan keberanian mewujudkan gagasan.
"Saya percaya SMA Welas Asih merupakan sekolah yang menerapkan pendidikan holistik. Inilah praktik baik yang dapat menjadi benchmark bagi pendidikan Indonesia. Jika semakin banyak sekolah yang tumbuh seperti Welas Asih, saya optimistis pendidikan kita akan semakin maju," pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.