Dark/Light Mode

Kementan Gandeng Champion Kendalikan Pasokan Bawang Merah Jelang Idul Adha

Selasa, 19 Mei 2026 18:21 WIB
Penen bawang merah. Foto: Kementan
Penen bawang merah. Foto: Kementan

RM.id  Rakyat Merdeka - Jelang Idul Adha 1447 H tahun ini, permintaan kebutuhan pangan pokok diperkirakan mengalami peningkatan, salah satunya bawang merah.

Pemantauan tim Kementerian Pertanian di sentra-sentra produksi utama seperti Solok, Brebes, Enrekang, Bima, Nganjuk, Bandung, Kendal, Garut, Temanggung, Probolinggo dan sebagainya menunjukkan produksi nasional masih terkendali.

Namun diakui, kondisi cuaca ekstrim dirasakan sangat berdampak terhadap rerata hasil panen. Laporan dari para petani di berbagai sentra terutama di Pulau Jawa melaporkan hasil panen yang kurang maksimal pada pertengahan Mei ini.

Direktur Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian, Muhammad Taufiq Ratule menyatakan produksi bawang merah nasional secara umum terkendali. Setiap tahun, produksi nasional rata-rata mencapai 2 juta ton konde basah atau setara 1,3 juta ton rogol kering panen.

Dengan kebutuhan konsumsi 1,26 juta ton setahun, seluruhnya masih mampu dicukupi dari produksi dalam negeri.

Baca juga : Kejagung Tetapkan Tersangka Baru Kasus Tambang Ilegal Samin Tan

“Bawang merah produksi setahun mencukupi, bahkan bisa ekspor. Tahun 2025 lalu produksi mencapai 2,1 juta ton konde basah. Menghadapi Idul Adha ini, kami terus perkuat sinergi dengan Champion, Pemda, Asosiasi, dan Kementerian/Lembaga terkait,” kata Taufiq saat dihubungi usai Rakor bersama Champion Bawang Merah Nasional, Selasa (19/5/2026).

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat – Ditjen Hortikultura, Muhammad Agung Sunusi, menyebut pasokan bawang merah secara umum masih terkendali.

Musim tanam Maret – Mei ini para petani bawang merah dihadapkan pada tantangan nyata berupa cuaca yang sangat ekstrim. Panas dan hujan berlangsung ekstrim dan sulit diprediksi. Hama dan Penyakit bawang merah juga merebak seperti ulat grayak dan moler. Akibatnya hasil panen Mei ini di beberapa sentra tidak optimal.

"Namun pasokan dari berbagai sentra masih berlangsung lancar, diantaranya dari Nganjuk, Enrekang, Pati, sebagian Brebes, Temanggung, Garut dan sebagainya. Secara umum produksi masih terus eksis dan terkendali,” beber Agung.

Agung menambahkan, pihaknya terus melakukan koordinasi dengan dinas pertanian provinsi/kabupaten, para petani champion dan instansi terkait guna memastikan pasokan bawang merah tetap terjaga dan terkendali. Menurutnya, pasokan bawang merah akan semakin meningkat di bulan Juni 2026.

Baca juga : BPJS Ketenagakerjaan Jamin Pendidikan Anak Korban Kecelakaan KRL

Produksi di Bima akan mencapai puncaknya nanti di Juni, demikian pula di Solok, Pati, Kendal dan sebagian Brebes. Daerah yang masuk kriteria defisit, kami dorong untuk lebih aware dan merealisasikan kerjasama antar dearah (KAD) dengan daerah surplus. Contoh untuk wilayah Kalimantan dan Sulawesi bagian utara, bisa disuplai dari Enrekang.

"Produksi Jawa dimaksimalkan untuk memenuhi kebutuhan Jawa dan Sumatera," terangnya.

Petani Champion bawang merah Enrekang, Kasmidi, mengatakan panen bawang merah di daerahnya masih berlanjut sampai dengan menjelang Idul Adha nanti.

“Sedikitnya masih ada 300 ha lagi panen sampai Idul Adha nanti. Distribusi ke Kalimantan dilakukan secara rutin 3 kali dalam seminggu, masih lancar,” kata Kasmidi.

Senada, Champion bawang merah asal Solok, Amri Ismail menyebut produksi bawang merah Solok saat ini sudah membaik dibanding bulan April lalu.

Baca juga : Sekjen Kemendagri Minta Pemda Atasi Kenaikan Harga Cabai Merah

“Pertengahan Juni diperkirakan Kabupaten Solok mulai panen raya dan diharapkan menghasilkan bawang merah berkualitas. Kami siap ikut mengamankan pasokan untuk wilayah Sumatera utamanya Sumatera Utara, Jambi, Riau dan Bengkulu,” ungkap Amri.

Ketua Umum Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI), Dian Alex Chandra, mengkonfirmasi bahwa produksi bawang merah sampai akhir Mei masih cukup tersedia namun jumlahnya berkurang 30-40 persen dari kondisi normal.

“Sampai Idul Adha nanti harga memang cenderung masih diatas harga acuan, karena kebutuhan masyarakat yang memang meningkat. Setelah Idul Adha nanti perkiraannya akan kembali di rentang harga acuan seiring banyak panen di beberapa sentra,” ujar pria yang akrab disapa Alex tersebut.

Produksi bulan Mei tahun ini diakui kurang maksimal akibat dampak cuaca ekstrem terutama pada periode musim tanam Maret – Mei. Selain itu, produksi periode tersebut banyak digunakan petani sebagai calon benih untuk musim tanam raya Mei/Juni.

“Harga benih saat ini sudah diatas 60 ribu/kg. Perlu ada intervensi pemerintah guna menjaga ketersediaan benih terutama untuk musim tanam Mei-Juni ini, agar petani bisa tanam kembali,” tandas Alex.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.