BREAKING NEWS
 

KLH Tekankan Pentingnya Koordinasi & Pencegahan Kebakaran Lahan Gambut

Reporter : NOVALLIANDY
Editor : SRI NURGANINGSIH
Minggu, 12 Juli 2026 13:44 WIB
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat saat membuka Rapat Kerja (Raker) di Jakarta, Jumat (10/7/2026). (Foto: Dok. Kementerian Lingkungan Hidup)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Lingkungan Hidu/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (LH/BPLH) Jumhur Hidayat membuka Rapat Kerja (Raker) Pencegahan dan Antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan pada Ekosistem Gambut bertema “Pencegahan Kebakaran Gambut Menghadapi El Niño 2026” di Jakarta, Jumat (10/7/2026).

Pada kesempatan ini, Jumhur menegaskan, bahwa pemerintah sedang menyelenggarakan rapat kerja besar yang dilaksanakan secara paralel di berbagai tempat.

Hal ini menunjukkan besarnya skala dan tingkat urgensi upaya pencegahan kebakaran lahan, gambut, dan tempat pemrosesan akhir sampah selama periode kemarau panjang.

Pertemuan tersebut merupakan bagian dari proses koordinasi yang lebih luas dengan melibatkan lembaga pemerintah, perusahaan, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Menteri Jumhur,  sehari sebelumnya telah berlangsung pertemuan di Bali bersama tiga menteri dalam forum ASEAN yang membahas kebakaran hutan dan lahan, serta kemungkinan kebakaran di kawasan pesisir atau laut.

Setiap negara memiliki langkah dan strategi masing-masing untuk mengatasi risiko kebakaran. Keterlibatan dalam forum regional tersebut menjadi konteks yang lebih luas bagi pertemuan di tingkat nasional.

Menurutnya, upaya pencegahan yang dilakukan Indonesia bukanlah tindakan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari respons regional terhadap kabut asap lintas batas, kekeringan berkepanjangan, serta kebakaran hutan dan lahan.

Pertemuan tersebut melibatkan hampir 400 perusahaan yang menguasai wilayah konsesi dengan luas masing-masing dapat mencapai sekitar 100.000 hektare. Jika digabungkan, seluruh wilayah konsesi tersebut mencakup jutaan hektare, termasuk kawasan perkebunan, wilayah terkait industri minyak, dan berbagai bentuk kegiatan industri lainnya.

Baca juga : TRI: Langkah Menhut Berhasil Pulihkan Kepercayaan Investor Perdagangan Karbon

Jumhur menginstruksikan kepada perusahaan bahwa kebakaran tidak boleh terjadi di dalam wilayah konsesi dan seluruh titik yang berpotensi berkembang menjadi kebakaran harus dicegah sejak awal.

"Perusahaan diharapkan mengelola lahannya secara proaktif, bukan sekadar bereaksi setelah kebakaran terjadi," ujar Jumhur.

Salah satu metode mitigasi utama yang disampaikan Jumhur adalah menaikkan dan mempertahankan tinggi muka air tanah, terutama di kawasan yang memiliki kanal atau saluran drainase.

Upaya tersebut dilakukan dengan menyekat, mempersempit, atau mengendalikan kanal agar air tidak mengalir terlalu cepat keluar dari bentang alam menuju sungai atau wilayah lain di bagian hilir.

Tujuan utamanya adalah mempertahankan air di dalam wilayah konsesi dan menjaga lahan di sekitarnya tetap lembap.

Dalam ekosistem gambut, drainase yang tidak terkendali menyebabkan tinggi muka air tanah turun, sehingga gambut menjadi kering dan sangat mudah terbakar.

Melalui pengendalian kanal, air dapat bertahan lebih lama di dalam bentang alam.

Adsense

Jumhur juga menghubungkan pengelolaan kanal dengan upaya mempertahankan kelembapan sungai dan lahan.

Baca juga : PDSKO Beberkan Pilar Pencegahan Kejadian Fatal Saat Aktivitas Fisik

Jumhur menambahkan, tanggung jawab perusahaan tidak hanya terbatas pada lahan yang berada di dalam batas formal konsesinya.

Ia menegaskan, perusahaan juga diharapkan menjalankan tanggung jawab sosial dan lingkungan di kawasan sekitarnya.

Dalam radius beberapa kilometer dari batas konsesi, perusahaan diminta bekerja sama dengan masyarakat, tokoh setempat, dan pemerintah daerah

Kerja sama tersebut mencakup bantuan kepada masyarakat dalam membangun sekat kanal, mengelola saluran drainase, dan melaksanakan pembasahan kembali di luar wilayah yang secara langsung dikuasai perusahaan.

Meskipun secara hukum tanggung jawab utama perusahaan berada di dalam konsesinya, pemerintah juga memberikan peran pencegahan yang lebih luas hingga radius lima kilometer dari batas konsesi. Pendekatan ini mengakui bahwa sistem air dan penyebaran api tidak mengikuti batas administrasi maupun batas konsesi. Kawasan kering di luar konsesi dapat menimbulkan risiko kebakaran bagi perusahaan.

Sebaliknya, pengeringan yang terjadi di dalam konsesi juga dapat memengaruhi desa dan ekosistem di sekitarnya.

Oleh karena itu, pencegahan kebakaran harus dilakukan melalui kerja sama dalam skala bentang alam. Menteri Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat menyatakan bahwa masih banyak kanal yang perlu ditangani. Selama periode El Niño yang berkepanjangan, lebih dari 20.000 tindakan pengelolaan kanal atau pembasahan kembali diperkirakan diperlukan dalam beberapa bulan mendatang. Pernyataan tersebut menunjukkan besarnya skala pekerjaan fisik sekaligus tingginya urgensi yang disebabkan oleh musim kemarau panjang. Pembangunan sekat kanal dan tindakan lain untuk menahan air harus segera dilakukan agar pengeringan lahan tidak terus berlanjut.

Pada kesempatan ini, Jumhur kembali menekankan pentingnya membangun gerakan bersama dalam menghimpun seluruh pihak terkait dan memastikan keterlibatan mereka dalam kegiatan pencegahan kebakaran dan pemulihan lingkungan.

Baca juga : Kejagung Tetapkan 3 Tersangka Manipulasi Ekspor Logam Tanah Jarang

Sinergi Pemerintah dan Dunia Usaha Komitmen tersebut mendapat dukungan dari pelaku usaha. Deputy Director of Corporate Affairs Asia Pulp & Paper (APP), Iwan Setiawan, menyampaikan bahwa sinergi antara pemerintah dan dunia usaha menjadi bagian penting dalam memperkuat upaya pencegahan karhutla, khususnya dalam menjaga ekosistem gambut.

Iwan mengartakan, Forum seperti ini sangat penting bagi kami sebagai pelaku usaha yang mengelola areal gambut untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Kami berkomitmen mendukung pencegahan karhutla melalui water sharing dan restorasi fungsi hidrologis ekosistem gambut di kawasan penyangga bersama para pemangku kepentingan," ujar Iwan. 

Dukungan serupa disampaikan Department Head Water Management PT TH Indo Plantation (THIP), Eko Hariyono.

"Kami mengapresiasi terselenggaranya forum ini sebagai wadah untuk memperkuat kolaborasi dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Kami juga berkomitmen untuk terus berupaya mencegah karhutla serta mengelola dan melindungi ekosistem gambut, khususnya di kawasan sekitar wilayah operasional perusahaan," ujar Eko.

Selain memperkuat langkah pencegahan, KLH/BPLH terus meningkatkan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaku usaha melalui pemantauan kondisi hidrologi gambut, evaluasi kepatuhan perusahaan, serta optimalisasi Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER).

Hingga saat ini, sebanyak 413 perusahaan telah melakukan inventarisasi karakteristik ekosistem gambut, 379 perusahaan berada dalam pengawasan PROPER, dan 319 perusahaan telah memiliki dokumen pemulihan fungsi ekosistem gambut sebagai dasar perlindungan dan pengelolaan gambut secara berkelanjutan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense