RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengingatkan bahwa persoalan pangan tidak bisa dipandang sekadar urusan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Pangan berkaitan langsung dengan kedaulatan, kekuatan ekonomi, hingga masa depan sebuah bangsa.
Pesan itu disampaikan Zulkifli Hasan atau Zulhas dalam peluncuran buku Pangan Indonesia di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jumat (4/9/2026).
Dalam diskusi yang dipandu Communication Strategist Prita Laura, Zulhas mengurai sejumlah persoalan yang masih membayangi pembangunan sistem pangan nasional. Mulai dari kesejahteraan petani dan nelayan, tingginya biaya produksi, hingga ketergantungan terhadap teknologi dan sumber daya pangan dari luar negeri.
Baca juga : 1.512 Anak PMI Di Malaysia Kini Berstatus WNI Yang Sah
Menurut Zulhas, isu pangan sering kali luput dari perhatian karena masyarakat terbiasa mendapatkan makanan setiap hari. Padahal, di balik sepiring makanan yang tersaji, terdapat persoalan panjang dari hulu hingga hilir.
“Pangan itu kita sudah terbiasa. Karena sudah setiap hari makan, kadang-kadang kita tidak mau tahu lebih lanjut. Padahal, hampir semua makanan yang kita makan memiliki persoalan strategis,” ujar Zulhas.
Dia menilai, kekuatan pangan menjadi salah satu indikator penting kemajuan sebuah negara. Negara yang ingin tumbuh menjadi negara maju tidak seharusnya terus bergantung pada pasokan pangan dari negara lain.
Baca juga : Bawaslu Mulai Antisipasi Deepfake Di Pemilu 2029
“Kalau makan itu akan mencerminkan keadaan suatu peradaban bangsa. Tidak ada negara yang maju tetapi pangannya terus bergantung kepada negara lain,” katanya.
Karena itu, pembangunan sektor pangan harus memberikan perhatian kepada para pelaku utama di lapangan. Petani, nelayan dan peternak, menurut Zulhas, memegang peran penting dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional.
Salah satu persoalan yang masih dihadapi adalah keterbatasan infrastruktur dan akses pasar. Nelayan, misalnya, dapat mengalami kerugian ketika hasil tangkapan melimpah tetapi tidak didukung fasilitas penyimpanan yang memadai.
Baca juga : Kinerja KEK Positif, Investasi Digaspol
Akibatnya, ikan cepat rusak dan harus dijual dengan harga murah. Dampaknya tidak hanya dirasakan nelayan, tetapi dapat menjalar ke persoalan kemiskinan, pendidikan, hingga pertumbuhan ekonomi daerah.
“Kalau nelayan mendapatkan ikan, tetapi tidak punya tempat penyimpanan dan akses pasar, akhirnya ikan cepat rusak dan harganya murah. Dampaknya luas, bukan hanya terhadap nelayan, tetapi juga terhadap kemiskinan, pendidikan dan pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.
Zulhas juga menyoroti tingginya biaya produksi pangan di Indonesia. Dia membandingkan biaya produksi beras nasional dengan negara-negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.