Sebelumnya
Menurut dia, biaya untuk menghasilkan satu kilogram beras di Indonesia masih jauh lebih tinggi dibandingkan dua negara tersebut.
“Negara tetangga kita, Thailand dan Vietnam, untuk mendapatkan satu kilogram beras biayanya sekitar Rp 3.800. Kita untuk mendapatkan satu kilogram beras perlu sekitar Rp 12 ribu,” ungkapnya.
Kondisi tersebut, kata Zulhas, harus dijawab dengan peningkatan produktivitas dan pemanfaatan teknologi. Perbaikan tata kelola pertanian, inovasi pengolahan lahan, hingga efisiensi produksi menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.
Baca juga : 1.512 Anak PMI Di Malaysia Kini Berstatus WNI Yang Sah
Tantangan serupa juga terjadi pada komoditas tebu. Jika biaya produksi dalam negeri terus lebih tinggi dibandingkan negara lain, Indonesia akan kesulitan meningkatkan daya saing.
“Kalau biaya produksi kita jauh lebih tinggi, kita akan terus tertinggal. Karena itu kita harus menyadari betapa pentingnya persoalan pangan ini,” tegasnya.
Zulhas menilai, pembangunan pangan memiliki dampak yang jauh melampaui urusan ketersediaan makanan. Sektor tersebut berkaitan dengan tingkat kemiskinan, kesehatan, pendidikan, produktivitas masyarakat, hingga pertumbuhan ekonomi nasional.
Baca juga : Bawaslu Mulai Antisipasi Deepfake Di Pemilu 2029
Karena itu, dia mendorong pembangunan sistem pangan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Indonesia, dengan sumber daya alam dan jumlah penduduk yang besar, dinilai memiliki modal kuat untuk membangun kemandirian pangan.
Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan Dirgayuza Setiawan mengatakan, buku Pangan Indonesia disusun untuk membawa isu pangan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Menurutnya, banyak persoalan pangan yang sebenarnya berada di sekitar masyarakat, tetapi belum dipahami secara mendalam.
Baca juga : Kinerja KEK Positif, Investasi Digaspol
Salah satunya adalah alih fungsi lahan pertanian. Dirgayuza menilai fenomena tersebut tidak dapat dilepaskan dari persoalan kesejahteraan petani dan rendahnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian.
“Sawah berubah fungsi karena tidak menguntungkan dan tidak ada anak muda yang tertarik karena miskin. Pergi gelap, pulang gelap, badannya gelap, rezekinya gelap sekali,” katanya. KPJ
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 4, edisi Minggu, 6 September 2026 dengan judul "Buku Pangan Indonesia Diluncurkan Zulhas: Kita Memiliki Modal Bangun Kemandirian Bangsa"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.