RM.id Rakyat Merdeka - Masjid terpapar radikalisme kembali disorot. Sebanyak 41 masjid di kementerian, lembaga, dan BUMN, terpapar paham radikal. Bahkan, 17 masjid di kantor itu terpapar radikalisme berat. Hal itu diungkapkan Staf Khusus Kepala BIN, Arief Tugiman, dalam diskusi ‘Peran Ormas-ormas Islam dalam NKRI’ di Kantor Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI), Jakarta, kemarin.
“Berdasarkan pemetaan BIN, dari 100 masjid di kementerian dan lembaga, serta BUMN itu ada 41 masjid terpapar paham radikal. Yaitu, 11 masjid kementerian, 11 lembaga, dan 21 masjid BUMN,” ujarnya.
BIN merinci lagi, dari 41 masjid itu, 17 di antaranya berkategori tinggi. “Tujuh kategori rendah, 17 kategori sedang, dan 17 kategori tinggi,” kata Tugiman.
Baca juga : Amran Dinobatkan Sebagai Penjaga Ketahanan Pangan
Selain itu, tujuh perguruan tinggi negeri (PTN) yang disebut BIN terpapar paham radikalisme. BIN juga memaparkan prosentase provinsi yang terpapar radikalisme.
“Kemudian, juga ditemukan tujuh PTN yang terpapar radikalisme. Kemudian, 39 persen di 15 provinsi tertarik dengan paham radikal. Jabar, Lampung, Kalteng, Sulteng dan Riau,” ujar Tugiman. Ia pun meminta agar adanya peran ormas-ormas Islam dalam menanggulangi paham radikalisme.
Sebab, kata dia, radikalisme mengancam NKRI, dapat merusak kerukunan umat dan mengancam keamanan negara. “Para Dai harus bisa memberikan dakwah yang menyejukkan dan sekaligus meng-counter paham-paham radikal yang sekarang beredar,” harapnya
Baca juga : Bandara Soekarno Hatta Tembus 10 Besar Megahub Terbaik Dunia
BIN juga mengingatkan bahaya perpecahan ormas Islam yang saling klaim pada kebenaran. Ia meminta agar 396.236 ribu ormas di Indonesia menjaga keamanan bangsa. “Kalau masing-masing ormas menyebut dirinya paling benar, paling baik, paling hebat, paling berjasa, maka yang akan muncul apa? Pasti perpecahan, saling gontok-gontokan,” ujarnya.
Sementara Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri Soedarmo mengungkapkan, 7,7 persen orang Indonesia mau bertindak radikal. Sedangkan 0,4 persen orang pernah berbuat radikal. Menurut dia, data itu berdasarkan hasil survei yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme dan Wahid Institute pada 31 Oktober 2018. “Kita semua harus menjaga komitmen dalam rangka persatuan dan kesatuan bangsa, serta mencegah radikalisme menyebar,” kata Soedarmo.
Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu menyebut pertarungan dengan radikalisme lebih kepada petarungan ideologis daripada fisik atau militer. “Ancaman yang paling penting, ancaman terhadap mindset. Perang ke depan adalah ubah mindset. Kita adalah Pancasila, kita di tengah, tidak ke kiri, tidak ke kanan. Kiri ekstrim itu PKI, kanan ekstrim itu radikal,” kata Ryamizard. [QAR/NET]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.