Sebelumnya
Selanjutnya, jika dibandingkan dengan negara-negara Islam lainnya, Indonesia juga masih relatif lebih baik pertumbuhan ekonominya.
Sebut saja, Iran minus 1,5 persen, Irak minus 12 persen, Kuwait minus 8 persen, Qatar minus 4,5 persen, dan Uni Emirat Arab minus 6,6 persen.
Baca juga : 170 Negara Alami Kontraksi Terburuk Dalam 150 Tahun Terakhir, Indonesia Masih Mendingan
“Tentu dengan adanya kontraksi ekonomi akan terjadi konsekuensi kenaikan pengangguran, kenaikan kemiskinan dan berdampak kepada kesejahteraan masyarakat,” jelas Sri Mulyani.
Menurutnya, semua negara pasti melakukan counter cyclical melalui dua instrumen, yaitu fiskal dan moneter sebagai langkah untuk melawan siklus kontraksi yang luar biasa akibat pandemi ini.
Baca juga : Koperasi Dorong Pertumbuhan Ekonomi dan Jadi Solusi Jeratan Rentenir
Data IMF mencatat, total stimulus seluruh dunia mencapai 11,7 triliun dolar ASatau 12 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dunia.
Sedangkan Indonesia pada 2020, dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dialokasikan sekitar 40 miliar dolar AS.
Baca juga : Pegawainya Divaksin, Pengelola Mall Di Kota Bogor Yakin Ekonomi Segera Bangkit
Menurut Sri Mulyani, stimulus Indonesia sudah luar biasa besar jika dibandingkan total size stimulus global. Pasalnya, selama ini defisit nasional tidak boleh lebih dari tiga persen dan utang tidak boleh melebihi 60 persen dari PDB.
“Ini langkah luar biasa, karena anggaran PEN sekitar 40 miliar dolar AS itu ditingkatkan pada 2021,” pungkasnya. [NOV]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.