BREAKING NEWS
 

Kontekstualisasi Semangat Hijrah Milenial dengan Islam Moderat

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Senin, 24 Juli 2023 20:25 WIB
Akademisi UIN Alauddin Makassar Abdul Rauf Muhammad Amin (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Penggunaan istilah hijrah cukup marak saat ini. Khususnya di kalangan generasi muda atau dikenal dengan istilah hijrah milenial. Mereka berusaha mengaitkan hijrahnya Rasulullah SAW dengan upaya peningkatan pengamalan agama. Sayangnya, sebagian generasi muda justru salah kaprah dalam menafsirkan makna hijrah.

Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar Abdul Rauf Muhammad Amin mengatakan, hijrah yang dilakukan seseorang harus memiliki pemaknaan yang kontekstual. Hijrah itu tidak bisa dipandang secara hitam putih, misalnya dengan mengartikannya sebagai perpindahan tempat semata. Hijrah harus substansial, yaitu berpindah dari keburukan pada kebaikan. 

“Tapi, terkadang anak-anak milenial memaknai hijrah dengan perspektif yang konservatif,” ungkap Rauf, seperti keterangan yang diterima redaksi, Senin (24/7).

Baca juga : Dukungan Semakin Meluas, Ganjar Milenial Hadir Di Sulteng

Dirinya mengungkapkan, terminologi hijrah dalam Islam harus dimaknai secara kontekstual. Maksudnya, bahwa hijrah itu harus mengakomodasi tiga hal, yaitu wahyu, akal pikiran, dan realitas.

“Kalau kita bisa mengombinasikan tiga hal ini untuk memahami Islam, maka akan sangat powerful untuk memperbaiki kualitas keagamaan kita. Hijrah juga harus dimaknai sebagai perjalanan spiritual dan mentalitas sehingga dapat membawa seseorang memahami konsep moderasi beragama,” terangnya.

Adsense

Dia melanjutkan, hijrah adalah perubahan pola pikir dari Islam yang radikal dan ekstrim, menjadi Islam yang moderat. “Islam moderat itulah yang dikehendaki dalam Islam. Ini yang membutuhkan narasi-narasi yang sustainable agar bisa mengurangi terjadinya tren radikalisme,” imbuhnya.

Baca juga : Nyaris Mati Gara-gara Menelan Kunci Mobil

Ia mengingatkan pada generasi muda tidak melakukan truth claim atau klaim kebenaran secara sepihak. Sebab, hal itu menunjukkan kurangnya ilmu di dalam memahami Islam. Dia menyarankan para milenial memperbanyak belajar sehingga bisa mengkontekstualisasikan Islam dalam kehidupan nyata.

Rauf juga menyoroti pentingnya mendapatkan panduan beragama yang valid dan aman. Hal ini bisa dilakukan dengan mempelajari track record dari dai yang diikuti, apakah moderat atau tidak. 

“Sangat disayangkan apabila dai yang kita jadikan panutan justru mengajarkan intoleransi yang jauh dari nilai-nilai keislaman. Beredarnya banyak kajian di internet yang di isi beragam dai seharusnya membuat kita menjadi lebih selektif dalam mencari pelajaran agama,” imbuhnya.

Baca juga : Ganjar Milenial Jateng Gelar Pelatihan Jurnalistik

Dia menambahkan, kesalahan dalam memilih guru bisa membentuk pemahaman beragama menjadi radikal. “Kalau hanya belajar di internet, potensial sekali untuk melenceng dari pemahaman beragama yang sebenarnya,” jelasnya.

Penulis buku “Implementasi Maqasid Syariah dalam Perspektif Kontemporer” ini menekankan, para dai juga memiliki peranan penting dalam memahamkan hijrah secara benar pada masyarakat. Para dai harus bisa menjadi sosok yang solutif dalam menjawab berbagai permasalahan umat. Dai yang berhasil melakukan kontekstualisasi Islam adalah yang dapat menjadi penolong di tengah sempitnya pemahaman beragama.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense