Anak Ditegur Karena Tidak Bisa Mengikuti Pelajaran
Nicky Putera Pradana, anak pertama Tudi, sebelumnya sekolah di SD Nasa Pondok Gede. Dengan mutasi tugas orang tuanya, Nicky harus "berdarah-darah," istilahnya, untuk menyesuaikan diri dengan sekolah di negara akreditasi. Sangat berat.
Dia yang sekolahnya berbahasa Indonesia harus dapat mengikuti pendidikan yang berbahasa Inggris di International School. Untungnya nilai bahasa Inggrisnya bagus. Jadi dia lulus dan diterima.
Baca juga : Menggapai Asa Di Tengah Prahara
Sekitar 3 bulan kemudian, Tudi menemui guru Nicky yang meminta dia ke sekolah. Guru itu mengeluh, "Your son, Nicky. His school's report mentioned he was very good in English. But, in fact, he cannot understand what we are saying. He just keeps on busy playing with his friends. He cannot follow the lesson in the class."
Marah juga Tudi anaknya direndahkan. Dia katakan, "Indonesia is not an English-speaking country. Here is an English-speaking environment. The standard of English course is different. Moreover, you cannot just expect the good result only based on the good inputs. It is your responsibility to make whatever inputs to become good results. But, okay, I will do my best at home to teach Nicky and you do your best at school," kata Tudi.
Sejak itu, Tudi menggembleng Nicky. Setiap hari, Nicky diwajibkan membaca bacaan Inggris 3 halaman dan dibunyikan. Selanjutnya, latihan menceritakan yang dibacanya. Setelah 2 minggu, target bacanya ditingkatkan menjadi 5 halaman. Setelah 1 bulan, ditingkatkan menjadi 10 dan selanjutnya 12 halaman tiap hari.
Sekitar 6 bulan kemudian, gurunya memanggil Tudi dan banyak memuji-muji Nicky yang menunjukkan kemampuan belajar yang excellent.
Baca juga : Lika-Liku Merantau, Kuliah, Dan Teror Polisi Khusus Susu
Mas Geng dan Tudi Di-strap Istri Di Bratislava
Saat Mas Geng bertugas di Bratislava waktunya hampir bersamaan dengan Tudi di Wina. Jarak kedua Perwakilan itu hanya 57 km. Mereka saling mengunjungi hampir seminggu sekali.
Kedua kakak beradik itu memang "kosro" atau ndableg, istilah Jawanya. Suatu waktu di musim dingin di Bratislava, mereka hendak ke luar keliling kota mencari hiburan malam yang banyak di kota Eropa Timur itu seperti kafe-kafe atau musik. Mereka menunggu istri-istri tidur.
Jam 11.00 setelah kedua istri mereka nampak tertidur pulas di ruang tamu, Mas Geng dan Tudi berjalan berjinjit-jinjit, pelan-pelan. Dibukanya pintu terus ditutup pelan. Klik. Mereka pun keluar berkendara keliling kota dan tempat-tempat hiburan.
Baca juga : Dari Agen Susu Ke Gerbong Filsafat
Pulang jam 02.30-an. Tapi keduanya mendapati pintu rumahnya terkunci, dikunci dari dalam oleh istri-istri mereka. Jiangkriiiik, mereka terpaksa tidur di mobil, di-strap istri-istri. Ha-ha-ha.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.