BREAKING NEWS
 

Kedutaan Digerebek Polisi, Meksiko Putuskan Hubungan Diplomatik Dengan Ekuador

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Minggu, 7 April 2024 07:34 WIB
Mantan Wapres Ekuador Jorge Glas (Foto: Ecuador Times)

RM.id  Rakyat Merdeka - Meksiko memutuskan hubungan diplomatik dengan Ekuador, setelah polisi menggerebek kedutaan besarnya di Quito, untuk menangkap mantan Wakil Presiden Ekuador Jorge Glas, yang tengah mencari suaka di sana.

Dalam pernyataannya kepada CNNE, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri mengatakan, semua staf diplomatik Meksiko akan segera meninggalkan Ekuador. Meksiko menyebut penggerebekan itu sebagai bentuk kebiadaban terhadap hukum internasional.

Video dari lokasi kejadian menunjukkan kerumunan petugas polisi di sekitar kedutaan, beberapa di antaranya bersenjata. Untuk diketahui, berdasarkan norma diplomatik, Kantor Kedutaan adalah ruang yang dilindungi.

Menurut keterangan Badan Penjara Nasional (SNAI) pada Sabtu (5/4/2024), setelah penggerebekan itu, Glas dipindahkan ke Guayas No.3 Deprivation of Liberation Center, penjara dengan keamanan maksimum di Guayaquil yang dikenal dengan sebutan La Roca.

Keretakan antara kedua negara Amerika Latin belakangan ini memang terus berkembang. Puncaknya, Meksiko memutuskan memberikan suaka politik kepada Glas, yang menjabat sebagai wakil presiden di bawah mantan Presiden sayap kiri Rafael Correa antara tahun 2013 dan 2017, Jumat (5/4/2024).

Glas yang dihukum dua kali atas tuduhan korupsi, mengaku menjadi sasaran penganiayaan politik dan memilih berlindung di dalam Kantor Kedutaan.

Baru-baru ini, Glas dituduh pihak berwenang Ekuador menggelapkan dana pemerintah, yang ditujukan untuk merehabilitasi berbagai fasilitas yang rusak akibat gempa bumi dahsyat pada tahun 2016.

Baca juga : Ke Jakarta, Komandan Satgas AL Kanada Promosi Penguatan Hubungan Pertahanan

Jumat (5/4/2024), melalui akun X, Presiden Meksiko Andrés Manuel López Obrador mendapat informasi, polisi dari Ekuador memasuki Kedutaan Meksiko secara paksa. Mereka membawa Glas, yang notabene adalah seorang pengungsi dan sedang memproses suaka karena penganiayaan dan pelecehan yang dihadapinya.

Kabar penangkapan ini juga dibenarkan pemerintah Ekuador, melalui platform media sosial yang sama. "Glas dijatuhi hukuman penjara oleh sistem peradilan Ekuador. Dia ditangkap malam ini dan ditempatkan di bawah perintah pihak yang berwenang. Suaka diplomatik yang diterimanya, bertentangan dengan kerangka hukum konvensional,” jelas pemerintah Ekuador.

“Apa yang baru saja Anda lihat adalah kemarahan terhadap hukum internasional dan kedutaan Meksiko di Ekuador, yang tidak dapat diganggu gugat,” imbuh pernyataan tersebut.

Menanggapi hal ini, Kepala Kanselir dan Urusan Kebijakan Kedutaan Meksiko Roberto Canseco mengatakan kepada CNNE, penangkapan Glas sama sekali tidak dapat diterima. "Itu adalah barbarisme. mereka telah melanggar landasan diplomatik," ujarnya.

Alasan Ekuador

Menteri Luar Negeri Ekuador Gabriela Sommerfeld mengatakan, keputusan menggerebek kedutaan Meksiko untuk menangkap Glas diambil untuk menghadapi risiko nyata melarikan diri.

Adsense

Sommerfeld menuduh Meksiko melanggar prinsip non-intervensi, dengan membiarkan Glas tinggal di kedutaan dan menghindari perintah untuk hadir di hadapan pihak berwenang dalam penyelidikan korupsi.

“Kedutaan Besar Meksiko yang menerima Glas Espinel, telah berkontribusi terhadap kegagalan dalam mematuhi kewajiban untuk hadir setiap minggu di hadapan otoritas kehakiman. Ini tentu saja berdampak pada lembaga-lembaga demokrasi di Ekuador, yang jelas-jelas melanggar prinsip dasar non-intervensi dalam urusan dalam negeri negara bagian lain,” papar Sommerfeld dalam jumpa pers, Sabtu (6/4/2024).

Baca juga : Jokowi Puji Gebrakan Amran Percepat Penanaman Padi

Sommerfeld menolak klaim Meksiko bahwa Glas sedang dituntut secara politik. “Bagi Ekuador, tidak ada penjahat yang dapat dianggap sebagai orang yang dianiaya secara politik, ketika ia telah dihukum dengan hukuman yang dapat dilaksanakan dan dengan surat perintah penangkapan yang dikeluarkan otoritas kehakiman," jelasnya.

Mau Ngadu

Meksiko berencana mengadu ke Mahkamah Internasional untuk mengecam tindakan polisi Ekuador. Menteri Luar Negeri Meksiko, Alicia Bárcen mengaku tak menerima informasi apa-apa sebelum penangkapan Glas. Terlebih, Canseco juga diserang secara fisik. Rekaman video menunjukkan, Canseco berkelahi dengan polisi di luar kedutaan dan diseret ke tanah.

Yang menambah ketegangan saat ini, Presiden Meksiko Lopez Obrador mengkritisi Pemilu Ekuador, dengan mengatakan bahwa pemilu putaran kedua tahun 2023 berlangsung dengan cara yang sangat aneh. Dia menyebut calon presiden telah memanfaatkan media, serta mengungkit pembunuhan calon presiden Fernando Villavicencio dan kekerasan secara keseluruhan untuk kepentingan mereka.

Atas komentar tersebut, Ekuador menyematkan status persona non grata untuk Duta Besar Meksiko. Dengan kata lain, mereka harus meninggalkan Ekuador dalam waktu dekat.

Perpecahan dramatis dalam hubungan ini mengirimkan gelombang kejutan ke seluruh kawasan. Dengan cepat, pemimpin Amerika Latin mengutuk serangan Ekuador terhadap kedutaan besar tersebut.

Dalam sebuah pernyataan, Presiden Kolombia Gustavo Petro mengatakan, hak suaka Glas telah dilanggar secara biadab. Kolombia menyerukan badan-badan internasional untuk segera melakukan pemeriksaan terhadap pelanggaran konvensi Wina oleh negara anggota. Termasuk, organisasi negara-negara Amerika.

Sabtu (6/4/42024), Nikaragua menyatakan siap memutuskan semua hubungan diplomatik dengan Ekuador setelah serangan itu.

Baca juga : Teleponan 5 Menit, Biden Sangat Ingin Dekat Dengan Prabowo

Eric Farnsworth, mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS yang sekarang mengepalai kantor Dewan Amerika dan Masyarakat Amerika di Washington, menyebut tindakan Ekuador impulsif dan tidak perlu.

"Hal itu dapat mengubah penjahat menjadi korban dan memberikan lawannya titik temu untuk melawan (Presiden Ekuador Daniel Noboa) yang mereka benci. Ini bisa memicu krisis antar negara dengan Meksiko, di saat sulit ini,” tulisnya via X.

Ekuador yang pernah dipandang sebagai pulau damai di wilayah tersebut, dilanda kekerasan dalam beberapa tahun terakhir, ketika organisasi penyelundup narkoba melakukan operasi di seluruh negeri.

Setelah kekerasan terjadi di jalan-jalan pada Januari lalu, Noboa mengambil langkah luar biasa dengan menyebut negaranya mengalami konflik bersenjata internal. Dia memerintahkan angkatan bersenjata Ekuador untuk menetralisir anggota lebih dari 20 geng, yang ia sebut sebagai kelompok teror.

“Cerita mendasar di sini, para pemimpin Amerika Latin semakin meyakini perlunya melanggar konstitusi. Dalam hal ini, melanggar konvensi diplomatik akibat darurat yang ditimbulkan organisasi yang terorganisir kejahatan," ucap Brian Winter, pemimpin redaksi Americas Quarterly.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense