Sebelumnya
Menurut Kim, ASEAN kini dipandang sebagai mitra sangat penting bagi Korsel. Bukan hanya dari sisi ekonomi, tapi juga stabilitas kawasan. Karena itu, dia mendorong pembentukan saluran dialog yang lebih kuat dan kolaborasi antara sektor swasta dan lembaga publik. Seperti parlemen dan Pemerintah.
Kata dia, korporasi Korsel harus mematuhi otoritas lokal ketika beroperasi di negara lain.“Termasuk mengikuti hukum dan regulasi yang berlaku,” tegasnya
Kim menambahkan, kolaborasi internasional tidak boleh hanya melibatkan sektor bisnis. Pemerintah dan parlemen juga harus terlibat aktif dalam menciptakan fondasi kerja sama yang inklusif dan berkelanjutan. Ini sejalan dengan komitmen Korsel untuk menjaga keterbukaan dan tanggung jawab di tengah ketidakpastian global.
Baca juga : Stairlift Di Borobudur Untuk Sambut Macron
“Kita perlu memperkuat sinergi Pemerintah, parlemen, dan dunia usaha. Demi menciptakan kemitraan yang saling menguntungkan,” imbuhnya.
Terkait hal ini, Yu menambahkan, Indonesia merupakan mitra paling krusial dalam kebijakan New Southern Policy yang dijalankan Seoul. Menurutnya, meski dari sudut pandang Indonesia dinamika politik di Korsel terlihat terpolarisasi, tapi dalam isu keamanan, ada kesepahaman lintas partai yang kuat. Ini menjadi landasan penting dalam memperkuat hubungan internasional.
“Korsel tampak terbelah, tapi untuk strategi keamanan, kami memiliki kesepakatan lintas partai,” ujar Yu.
Baca juga : Menko Polkam Apresiasi Operasi Gabungan Di Perairan Kepri
Dia menekankan pentingnya membangun model kerja sama yang saling menguntungkan dalam Kemitraan Strategis Komprehensif (Comprehensive Strategic Partnership/CSP) antara Indonesia dan Korsel. Tidak hanya dalam bidang ekonomi, kerja sama juga perlu diperluas ke sektor keamanan dan sumber daya. Optimisme ini didasari oleh potensi besar yang dimiliki kedua negara.
“Saya sangat optimistis karena banyak peluang kerja sama yang bisa dimanfaatkan kedua negara,” katanya.
Salah satu bentuk konkret kolaborasi strategis tersebut adalah proyek pengembangan jet tempur bersama. Meski menghadapi tantangan pendanaan, Yu meyakini, masalah tersebut bisa segera diatasi lewat diplomasi teknis dan komitmen bersama. Dia juga menegaskan pentingnya keberlanjutan proyek demi memperkuat posisi pertahanan kedua negara.
Baca juga : Rudianto Sumarwono: Pejabat Berkualitas Bisa Mengabdi Lebih Lama
“Saya percaya isu pendanaan bisa segera kita atasi dan proyek ini bisa terus berjalan,” imbuhnya.
Diskusi juga membahas hubungan Korsel-Korut. Meski berbeda ideologi partai, Kim dan Yu kompak. Daripada memikirkan soal unifikasi dua Korea, keduanya sepakat bahwa masyarakat di Negeri Gingseng lebih mementingkan perdamaian.
Menurut Kim, isu reunifikasi Korea belakangan makin menantang. Terutama di tengah meningkatnya ketegangan. “Situasi ini menyulitkan generasi muda membangun harapan akan penyatuan Korea,” ungkapnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.