Dark/Light Mode

Menyaksikan Keunikan Korea Selatan (1)

Di Tempat Pemakzulan Presiden, Ada Patung Himangi Dan Sarangi

Selasa, 27 Mei 2025 08:10 WIB
Kompleks Gedung Parlemen Korea Selatan. (Foto: Paul Yoanda/Rakyat Merdeka/RM.id)
Kompleks Gedung Parlemen Korea Selatan. (Foto: Paul Yoanda/Rakyat Merdeka/RM.id)

 Sebelumnya 
Menurut Kim, ASEAN kini dipandang sebagai mitra sangat penting bagi Korsel. Bukan hanya dari sisi ekonomi, tapi juga stabilitas kawasan. Karena itu, dia mendorong pembentukan saluran dialog yang lebih kuat dan ko­laborasi antara sektor swasta dan lembaga publik. Seperti parlemen dan Pemerintah.

Kata dia, korporasi Korsel harus mematuhi otoritas lokal ketika beroperasi di negara lain.“Termasuk mengikuti hu­kum dan regulasi yang berlaku,” tegasnya

Kim menambahkan, kolaborasi internasional tidak boleh hanya melibatkan sektor bisnis. Pemerintah dan parlemen juga harus terlibat aktif dalam men­ciptakan fondasi kerja sama yang inklusif dan berkelanjutan. Ini sejalan dengan komitmen Kor­sel untuk menjaga keterbukaan dan tanggung jawab di tengah ketidakpastian global.

Baca juga : Stairlift Di Borobudur Untuk Sambut Macron

“Kita perlu memperkuat sinergi Pemerintah, parlemen, dan dunia usaha. Demi men­ciptakan kemitraan yang saling menguntungkan,” imbuhnya.

Terkait hal ini, Yu menambah­kan, Indonesia merupakan mitra paling krusial dalam kebijakan New Southern Policy yang dijalankan Seoul. Menurutnya, meski dari sudut pandang Indo­nesia dinamika politik di Korsel terlihat terpolarisasi, tapi dalam isu keamanan, ada kesepaha­man lintas partai yang kuat. Ini menjadi landasan penting dalam memperkuat hubungan interna­sional.

“Korsel tampak terbelah, tapi untuk strategi keamanan, kami memiliki kesepakatan lintas partai,” ujar Yu.

Baca juga : Menko Polkam Apresiasi Operasi Gabungan Di Perairan Kepri

Dia menekankan pentingnya membangun model kerja sama yang saling menguntungkan dalam Kemitraan Strategis Kom­prehensif (Comprehensive Stra­tegic Partnership/CSP) antara Indonesia dan Korsel. Tidak hanya dalam bidang ekonomi, kerja sama juga perlu diperluas ke sektor keamanan dan sumber daya. Optimisme ini didasari oleh potensi besar yang dimiliki kedua negara.

“Saya sangat optimistis karena banyak peluang kerja sama yang bisa dimanfaatkan kedua negara,” katanya.

Salah satu bentuk konkret kolaborasi strategis tersebut adalah proyek pengembangan jet tempur bersama. Meski meng­hadapi tantangan pendanaan, Yu meyakini, masalah tersebut bisa segera diatasi lewat diplomasi teknis dan komitmen bersama. Dia juga menegaskan penting­nya keberlanjutan proyek demi memperkuat posisi pertahanan kedua negara.

Baca juga : Rudianto Sumarwono: Pejabat Berkualitas Bisa Mengabdi Lebih Lama

“Saya percaya isu pendanaan bisa segera kita atasi dan proyek ini bisa terus berjalan,” imbuhnya.

Diskusi juga membahas hubungan Korsel-Korut. Meski berbeda ideologi partai, Kim dan Yu kompak. Daripada me­mikirkan soal unifikasi dua Korea, keduanya sepakat bahwa masyarakat di Negeri Gingseng lebih mementingkan perda­maian.

Menurut Kim, isu reunifi­kasi Korea belakangan makin menantang. Terutama di tengah meningkatnya ketegangan. “Situasi ini menyulitkan generasi muda membangun harapan akan penyatuan Korea,” ungkapnya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.