RM.id Rakyat Merdeka - Jurnalis Rakyat Merdeka, Larasati Dyah Utami, bersama jurnalis dari Malaysia, Vietnam, Laos, Kamboja, Filipina, dan Thailand, mengikuti Program Kunjungan Jurnalistik yang diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Jepang selama 9 hari. Perjalanan dimulai pada 23 Juni 2025 hingga 1 Juli 2025, dengan agenda mengunjungi Tokyo, Osaka, dan Hiroshima. Berikut laporannya.
Di kota terakhir yang kami kunjungi, yaitu Hiroshima, perang hadir dalam bentuk ingatan yang hidup terekam dalam tubuh dan tutur penyintas. Seperti yang dikisahkan Katsuko Kuwamoto (86), penyintas bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat (AS) di Hiroshima pada 6 Agustus 1945.
Pada 28 Juni lalu, kami berkesempatan berbincang langsung dengan Kuwamoto di Hiroshima Peace Hall, sebuah gedung yang didirikan untuk mengenang para korban sekaligus mengedukasi publik tentang dampak kemanusiaan dari senjata nuklir.
Di lantai dua, sang nenek telah menanti. Wajahnya tenang, namun sorot matanya menyimpan luka yang dalam. Kuwamoto tersenyum saat menyambut kami, seolah kesedihan panjang yang dia bawa bisa ditanggalkan sejenak demi pertemuan itu.
Baca juga : Rio Priambodo: Tindak Tegas Pelaku Pengoplos Beras
Kuwamoto lahir pada 1939, di Yagenbori, Hiroshima. Saat bom dijatuhkan, dia baru berusia enam tahun. Kota tempat tinggalnya luluh lantak. Lebih dari 140.000 orang tewas. Trauma berkepanjangan dialami penyintas yang bertahan, dan Kuwamoto menjadi satu di antara sedikit yang masih hidup untuk mengisahkannya.
"Saya masih bisa mencium bau tubuh yang terbakar sampai sekarang," kisahnya.
Saat itu, Jepang tengah berada di ambang kekalahan dalam Perang Dunia II. Ayahnya pun tak luput dari wajib militer.
Keluarga mereka tinggal di Yagenbori, pusat kota Hiroshima. Karena sang ayah harus ikut wajib militer, akhirnya dia hanya tinggal bersama ibu dan kakaknya. Masa kecilnya dilalui dengan keterbatasan dan rasa lapar.
Baca juga : Daniel Johan: Umumkan Merknya, Agar Nggak Gaduh
Karena seringnya sirene peringatan serangan udara berbunyi, sang ibu memutuskan mengevakuasi kakaknya ke rumah bibi mereka di Nagatsuka, Gion, timur Hiroshima.
Kuwamoto masih tinggal bersama sang ibu. Namun, pada akhirnya dia pun menyusul sang kakak. Kuwamoto awalnya menolak pindah, namun tergoda janji makan sesendok kacang kedelai tiap hari. Suatu kemewahan saat itu.
"Saya tidak ingin meninggalkan ibu, tetapi ketika saya diberi tahu bahwa saya boleh makan sesendok kacang kedelai setiap hari di sana, saya tidak dapat menahannya," tuturnya.
Minggu, 5 Agustus 1945, ternyata menjadi akhir dari rutinitas mereka pulang ke rumah untuk bermalam, di akhir pekan. Pada hari itu, dia dan sang kakak menangis, menolak kembali ke Nagatsuka.
Baca juga : Skema Magang Ke Luar Negeri Bakal Ditata Ulang
“Kami lebih baik mati di sini bersama ibu," ujar Kuwamoto, menirukan rengekannya waktu kecil.
Tetangga mencoba menenangkannya dengan memberi buah persik sebagai bekal kembali ke rumah bibi. Mereka pun beranjak sambil menggigit buah persik. Malam itu, tak seorang pun menduga bahwa esok paginya, Hiroshima akan menjadi kota mati.
Ledakan bom atom terjadi pagi pukul 08.15. Efek ledakan terasa sampai ke Nagatsuka, sekitar 3,7 km sebelah timur laut dari pusat ledakan bom di Hiroshima. Kuwamoto sedang berada di kelas saat itu. Para murid telah dilatih menghadapi situasi genting, tapi pelatihan itu tak sebanding dengan dahsyatnya ledakan bom atom.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.