Sebelumnya
AS menegaskan, Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir ataupun kemampuan untuk membuatnya, termasuk melalui pengayaan uranium.
Namun Araghchi menegaskan, Iran memiliki hak untuk melakukan pengayaan uranium selama untuk tujuan damai. Dia juga menyebut pembicaraan diarahkan pada jaminan bahwa program nuklir Iran akan tetap bersifat damai selamanya, dengan imbalan pelonggaran sanksi ekonomi.
Kebuntuan perundingan ini telah berlangsung sejak 2018, ketika Trump menarik AS secara sepihak dari kesepakatan nuklir 2015 antara Iran dan negara-negara besar dunia.
Baca juga : Aurelie Moeremans, Pernikahan Pertama Tidak Diakui Gereja
Ketegangan meningkat setelah serangan AS dan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu. Trump mengklaim fasilitas tersebut “dihancurkan total”. Namun, tingkat kerusakan sebenarnya belum dapat dipastikan karena Iran melarang inspeksi internasional.
Iran membantah tengah mengembangkan senjata nuklir dan menyatakan tidak lagi melakukan pengayaan uranium sejak serangan tersebut. Araghchi juga mengklaim, kemampuan rudal negaranya kini bahkan lebih baik dibanding sebelum serangan.
Di tengah proses diplomasi, situasi dalam negeri Iran kembali memanas. Saksi mata melaporkan, aksi protes anti-Pemerintah pecah di sejumlah universitas di Teheran dan Mashhad. Demonstrasi berlangsung bertepatan dengan peringatan 40 hari wafatnya korban dalam gelombang unjuk rasa nasional sekitar enam pekan lalu.
Baca juga : Trump Naikkan Tarif Global 15%, Prabowo Siap Hadapi Semua Kemungkinan
Media Pemerintah Iran menyebut, aksi terjadi di lima universitas di Teheran dan satu di Mashhad. Video yang beredar di media sosial menunjukkan bentrokan antara pendukung pemerintah dan demonstran, dengan sebagian massa meneriakkan slogan anti-pemimpin.
Pemerintah Iran belum memberikan komentar resmi atas protes terbaru ini.
Gelombang demonstrasi sebelumnya disebut sebagai yang paling berdarah di bawah kepemimpinan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. Ribuan orang dilaporkan tewas dan puluhan ribu lainnya ditangkap.
Baca juga : Soal Impor 105 Ribu Mobil Pick Up dari India, Muncul Desakan Agar Dibatalkan
Lembaga berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency, mencatat sedikitnya 7.015 orang tewas dalam aksi dan penindakan sebelumnya, termasuk 214 aparat pemerintah. Sementara Pemerintah Iran pada 21 Januari lalu menyatakan jumlah korban tewas mencapai 3.117 orang.
Angka pasti korban hingga kini sulit diverifikasi secara independen karena pembatasan akses internet dan komunikasi internasional di Iran. Dengan perundingan yang kembali digelar dan tekanan domestik yang belum mereda, masa depan hubungan AS-Iran masih berada di persimpangan antara diplomasi dan eskalasi konflik. MEL
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 10, edisi Selasa, 24 Februari 2026 dengan judul "Di Tengah Negosiasi Nuklir Dengan Teheran Amrik Galang Kekuatan Militer Di Timur Tengah"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.