RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Prabowo Subianto memainkan politik luar negeri bebas aktif untuk mengamankan kepentingan nasional di tengah konflik global. Saat dirinya berada di Rusia, Prabowo juga mengutus Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin ke Amerika Serikat (AS).
Prabowo melakukan kunjungan ke Rusia pada Senin (13/4/2026). Dalam lawatan tersebut, ia bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Istana Kremlin, Moskow. Kedua kepala negara membahas peningkatan kerja sama bilateral Indonesia–Rusia.
Putin mengatakan, Rusia terbuka memperluas kerja sama dengan Indonesia di berbagai sektor strategis, seperti energi, antariksa, pertanian, industri, hingga farmasi. Di sektor pertahanan, Rusia juga membuka peluang kerja sama pendidikan militer.
Menanggapi hal itu, Prabowo mengatakan, sebagian besar kerja sama telah berjalan dan menunjukkan kemajuan signifikan. Dia memastikan, percepatan implementasi akan dilakukan pada sektor-sektor prioritas.
“Kami merasa perlu berkonsultasi untuk menghadapi tantangan ke depan, khususnya dalam mempererat kerja sama di bidang ekonomi dan energi,” ujar Prabowo.
Usai dari Moskow, Selasa (14/4/2026), Prabowo melanjutkan lawatan ke Prancis untuk bertemu Presiden Emmanuel Macron di Istana Élysée. Pertemuan tersebut dijadwalkan membahas penguatan kerja sama di bidang pertahanan, energi terbarukan, infrastruktur, pendidikan, hingga perubahan iklim.
Baca juga : Di Tengah Ketegangan Geopolitik Global, Kepercayaan Publik ke Pemerintah Tembus 75,1%
Di saat Prabowo di Rusia, Menhan Sjafrie Sjamsoeddin bertemu Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth di Pentagon, Washington D.C. Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan peningkatan hubungan menjadi Major Defense Cooperation Partnership (MDCP).
Kemitraan tersebut mencakup tiga pilar utama, yakni modernisasi militer dan pembangunan kapasitas, pendidikan dan pelatihan militer profesional, serta kerja sama operasional melalui latihan bersama.
“Kedua pemimpin sepakat meningkatkan hubungan pertahanan bilateral Amerika Serikat–Indonesia menjadi Kemitraan Kerja Sama Pertahanan Utama,” kata Juru Bicara Pentagon, Sean Parnell, dalam keterangan resmi Pentagon, Selasa (14/4/2026).
Kedua negara juga sepakat meningkatkan kompleksitas latihan militer bilateral dan multilateral, seperti Super Garuda Shield, guna memperkuat interoperabilitas dan kesiapan operasional. Selain itu, kerja sama melalui program International Military Education and Training diperluas untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia pertahanan Indonesia, termasuk pasukan khusus.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Setjen Kementerian Pertahanan (Kemenhan), Brigjen Rico Ricardo Sirait mengatakan, penguatan kerja sama dengan AS dilakukan secara terukur dan tetap berlandaskan kepentingan nasional serta prinsip saling menghormati dan saling menguntungkan.
Rico menegaskan, seluruh kerja sama berada dalam koridor politik luar negeri bebas aktif dan menjunjung tinggi kedaulatan negara. “Seluruh kerja sama pertahanan akan terus ditempatkan dalam kerangka menjaga kedaulatan negara dan memberikan manfaat nyata bagi Indonesia,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).
Baca juga : AS-Iran Gagal Damai: Minyak Meroket, Rupiah Melorot
Pengamat Militer sekaligus Co-Founder Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi menilai, langkah Prabowo ke Moskow dan Sjafrie ke Washington bukan sekadar diplomasi biasa. Menurutnya, terdapat pesan strategis di balik agenda tersebut terkait cara Indonesia membaca dinamika global.
“Ada kunjungan yang tampak formal di permukaan, tetapi sesungguhnya menyimpan pesan yang lebih dalam tentang bagaimana sebuah negara membaca dunia dan menyiapkan dirinya menghadapi zaman,” ujarnya.
Fahmi juga menilai, kunjungan Prabowo ke Rusia merupakan bagian dari garis diplomasi yang konsisten dan berkelanjutan sejak menjabat Menhan. Di tengah konflik global, ketidakpastian ekonomi, serta ancaman gangguan rantai pasok energi, langkah ini dinilai krusial.
“Indonesia tidak sedang memilih kubu, melainkan memperkuat fondasi nasionalnya, yakni pangan, energi, dan kepemimpinan yang berpihak pada bangsa sendiri,” jelasnya.
Sementara itu, Pengamat Kebijakan Publik Eko Wahyuanto menilai, pertemuan Prabowo dengan Putin menjadi tonggak baru dalam penguatan hubungan ekonomi Indonesia–Rusia. Ia memproyeksikan nilai perdagangan kedua negara berpotensi melampaui 5 miliar dolar AS.
Menurut Eko, dinamika global menuntut Indonesia menyesuaikan arah diplomasi di tengah persaingan kekuatan besar dunia. Ia juga menegaskan pertemuan Sjafrie dengan Menhan AS tidak boleh ditafsirkan sebagai keberpihakan Indonesia pada salah satu blok.
Baca juga : Temui Putin, Prabowo Amankan Stok BBM
“Tuduhan bahwa Indonesia bergantung pada salah satu blok kekuatan adalah hoaks dan cacat logika,” tegasnya.
Eko menilai, kombinasi hubungan Indonesia dengan Washington dan Moskow menunjukkan posisi tawar yang seimbang. Indonesia dinilai mampu mengakuisisi teknologi terbaik, menjalankan latihan militer lintas blok, serta membangun kapasitas industri pertahanan nasional tanpa kehilangan kedaulatan.
“Indonesia tidak memilih pihak tertentu, tetapi memilih jalan kesetaraan kedaulatan nasional,” ujarnya.
Ia menambahkan, pembicaraan Prabowo dan Putin juga mencakup investasi jangka panjang, termasuk proyek kilang minyak dan pengembangan energi nuklir untuk tujuan damai, seperti Small Modular Reactor (SMR).
Sedangkan, Guru Besar Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana mengatakan, kerja sama dengan Rusia dapat menjadi opsi untuk memperkuat pasokan minyak dalam negeri, selama dilakukan dengan harga yang kompetitif. Namun, ia mengingatkan adanya potensi tekanan dari negara Barat terhadap kerja sama tersebut.
“Pengamanan pasokan minyak dari Rusia berpotensi mendapat kritik dari negara-negara Eropa dan Amerika,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.