BREAKING NEWS
 

Gelar Pesta Demokrasi Di Tengah Krisis Kemanusiaan

Jumlah Warga Palestina Yang Ikut Nyoblos Minim

Reporter : DIANANDA RAHMASARI
Editor : MELLANI EKA MAHAYANA
Senin, 27 April 2026 06:10 WIB
Warga di Birzeit, dekat Ramallah, tepi Barat, memberikan hak suaranya dalam pemilu, Sabtu (25/4/2026). Foto: Reuters

 Sebelumnya 
“Kami memilih seseorang yang dapat memperbaiki komunitas lokal, seperti air dan perbaikan jalan,” ujar seorang warga Jericho, Yerusalem, Manar Salman dikutip dari Reuters, Minggu (26/4/2026). Tapi ada juga yang mempertanyakan momen pelaksanaan Pemilu. “Kami tidak mau Pemilu sekarang, tidak di saat Gaza masih diserang dan penjajah merampas tanah di Tepi Barat,” tegas warga di Dura al Qaraa, Ziad Hassan.

Meski banyak pemilih yang tidak berminat memberikan suara, Presiden Abbas mengaku senang. Sebab, rakyatnya bisa merasakan praktik demokrasi di tengah krisis berkepanjangan di wilayah itu.

“Kami sangat senang rakyat Palestina akhirnya bisa melaksanakan Pemilu,” ujar Abbas usai memberikan suaranya di Al Bireh, Tepi Barat, Sabtu (25/4/2026), dikutip dari WAFA.

Abbas berjanji, Pemilu akan digelar di seluruh Gaza jika kondisi memungkinkan. “Gaza bagian tak terpisahkan dari negara Palestina. Karena itu, kami berupaya memastikan Pemilu tetap berlangsung di Deir al Balah untuk menegaskan persatuan kedua wilayah,” ujarnya.

Baca juga : Syifa Hadju, Bahagia Jadi Istri El Rumi

Sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat (AS) pada Oktober lalu, daerah itu masih belum menunjukkan kemajuan signifikan.

Analis politik Palestina di Lebanon Hani al Masri menilai, rendahnya partisipasi di Gaza mencerminkan kondisi kemanusiaan yang masih memprihatinkan.

Masyarakat lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar dibandingkan proses politik.

Setelah memberikan suara, Mohammed al Hasayna (24) mengatakan, meski pemilihan kali ini sebagian besar bersifat simbolis, pemilihan itu berfungsi sebagai tanda kemauan untuk hidup rakyat Palestina.

Baca juga : Amerika Kerahkan Kapal Perang, Timteng Membara

“Kami bangsa yang berpendidikan dengan tekad yang kuat. Kami pantas memiliki negara sendiri,” tegasnya dikutip dari AFP, Minggu (26/4/2026).

“Kami ingin dunia membantu mengatasi bencana perang. Cukup sudah perang, sudah saatnya bekerja membangun kembali Gaza,” tandas al Hasayna.

CEC mencatat, pemungutan suara di Deir el Balah ditutup lebih awal untuk memungkinkan penghitungan suara di saat matahari masih bersinar. Hal ini disebabkan kurangnya aliran listrik di Jalur Gaza yang hancur akibat perang.

Sejumlah diplomat Barat menilai, Pemilu kali ini dapat mendorong reformasi transparansi dan akuntabilitas di tubuh Otoritas Palestina.

Baca juga : Ketahanan Pangan Kita Tangguh Hadapi Krisis

Komunitas internasional, termasuk negara-negara Eropa dan negara-negara Arab, secara umum mendukung kembalinya Pemerintahan Otoritas Palestina di Gaza, serta pembentukan negara Palestina merdeka yang mencakup Gaza, Yerusalem Timur dan Tepi Barat.

Berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan wilayah Gaza, dua tahun perang telah menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza dan menewaskan lebih dari 72.000 orang.

Infrastruktur publik, sanitasi dan layanan kesehatan di Gaza, semuanya berjuang untuk tetap bisa membantu warga yang terjebak dan bertahan hidup di sana. DAY

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 14, edisi Senin, 27 April 2026 dengan judul "Gelar Pesta Demokrasi Di Tengah Krisis Kemanusiaan Jumlah Warga Palestina Yang Ikut Nyoblos Minim"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense