RM.id Rakyat Merdeka - Para pemimpin Eropa dan Perdana Menteri (PM) Kanada Mark Carney berkumpul di Armenia untuk menjalin ikatan kerja sama yang lebih solid.
Total ada 48 negara yang hadir. Yakni ada 27 negara anggota Uni Eropa, 20 negara non-Uni Eropa dan Kanada, menghadiri European Political Community (EPC) di Yerevan, Armenia, pada 3-6 Mei 2026.
Kelompok yang diinisiasi Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Oktober 2022 ini, awalnya dibuat untuk mencari cara membantu Ukraina yang berperang dengan Rusia.
Kini, agenda pertemuan yang diadakan setiap dua tahun ini juga mencakup upaya bikin ancang-ancang agar negara-negara Eropa tidak terlalu bergantung pada Rusia, serta mencari jalan keluar dari tekanan tarif dagang Amerika Serikat (AS).
“Para pemimpin di benua ini dan Kanada, yang menjadi tamu kami, akan membahas kerja sama untuk memperkuat keamanan dan ketahanan bersama,” ujar Presiden Dewan Eropa Antonio Costa dalam postingan di akun X-nya, Minggu (3/5/2026).
Perang Iran yang telah mengguncang ekonomi global dan menyebabkan harga energi melonjak, telah memperdalam keretakan hubungan negara-negara Eropa dengan AS.
Terlebih lagi setelah perselisihan antara Presiden AS Donald Trump dengan Kanselir Jerman Friedrich Merz, yang mengkritik penanganan konflik oleh Washington. Hal ini berujung pada keputusan AS akan menarik 5.000 pasukannya dari Jerman.
Baca juga : Prabowo Bentuk Tim Koordinasi MBG, Empat Kementerian Jadi Ujung Tombak
Di satu sisi, langkah Pemerintah AS ini makin menambah keraguan terkait komitmen mereka membela sekutu-sekutunya Eropa. Di sisi lain, Eropa masih bersitegang dengan Rusia, yang berperang dengan Ukraina.
Seperti Eropa, perekonomian Kanada juga terdampak oleh kebijakan tarif yang diberlakukan Trump. Namun, PM Carney tetap teguh dan tidak begitu saja menuruti segala tuntutan Trump.
“EPC awalnya dipandang sebagai klub anti-Putin. Kini juga menjadi kelompok anti-Trump,” sebut Penasihat Khusus di Institut Jacques Delors, Sebastien Maillard kepada AFP.
Kanada telah bergabung dengan skema pembiayaan pertahanan Uni Eropa dan juga berupaya meningkatkan kerja sama di bidang perdagangan.
“Kanada memiliki cara pandang terhadap dunia dan mencari cara mengatasi tantangan yang kita hadapi saat ini, yang sebagian besar juga dihadapi Eropa,” kata seorang pejabat Uni Eropa yang enggan disebutkan namanya.
Pertemuan puncak EPC akan berlangsung pada Selasa (5/5/ 2026) dan bakal dihadiri pejabat utama blok tersebut, Presiden Dewan Eropa Antonio Costa dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.
Pertemuan di Yerevan ini adalah yang pertama di kawasan Kaukasus. Acara ini berlangsung ketika Armenia membina hubungan yang lebih dekat dengan Eropa, sambil secara perlahan melepaskan diri dari cengkeraman Rusia.
Baca juga : Banyak Penugasan Dari Presiden; Dulu Luhut, Kini Zulhas
Hubungan antara Yerevan dan sekutu tradisionalnya, Moskow, tegang dalam beberapa tahun terakhir. Sebagian karena pasukan penjaga perdamaian Rusia gagal campur tangan selama konflik militer Armenia dengan Azerbaijan pada 2023.
Meski demikian, Armenia saat ini masih berstatus anggota Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) bentukan Vladimir Putin dan menampung militer Rusia.
“Kami menyadari bahwa arsitektur keamanan yang kami tempati saat ini tidak berfungsi,” ujar Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Majelis Nasional Armenia Sargis Khandanyan.
Dia menambahkan, kehadiran misi pemantau sipil Uni Eropa di perbatasan telah mengubah persepsi publik secara signifikan.
“Kami menyadari adanya tuntutan publik untuk hubungan yang lebih erat dengan Uni Eropa,” ucapnya.
Namun, transisi ini penuh dengan risiko. Armenia sangat bergantung pada sumber daya energi Rusia. Dalam kunjungan Perdana Menteri (PM) Armenia Nikol Pashinyan ke Moskow pada 1 April lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin secara eksplisit mengingatkan keuntungan ekonomi yang diterima Armenia dari Rusia.
Tak hanya soal harga energi, tekanan ekonomi mulai terasa. Menjelang pertemuan puncak EPC di Yerevan, Rusia melarang impor air mineral asal Armenia.
Baca juga : Abrasi Hantam Pesisir Jawa: Dulu Lahan, Kini Perairan
“Ini ciri khas bagaimana ancaman hibrida bekerja,” ujar pengamat dari CyberHUB-AM, lembaga pemantau ruang informasi Armenia, Artur Papyan.
Menurutnya, setiap pernyataan pro kepada Uni Eropa sering kali diikuti hambatan logistik bagi truk Armenia di perbatasan Rusia.
Ambisi Armenia untuk bergabung dengan Uni Eropa yang secara resmi dimulai melalui undang-undang parlemen pada Maret 2025, menghadapi tembok hukum yang nyata.
Putin memperingatkan bahwa keanggotaan Armenia di Uni Eropa tidak kompatibel dengan Uni Ekonomi Eurasia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.