BREAKING NEWS
 

Ngobrol Santai Di Restoran MAKAN

Profesor Australia Ini Penggemar Nasi Goreng & Dangdut

Reporter & Editor :
KARTIKA SARI
Minggu, 31 Mei 2026 18:27 WIB
Dosen Monash University, Melbourne, Australia, Prof Edward Buckhingham (Foto: Kartika Sari/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Namanya Edward Buckhingham. Pria bergelar Profesor yang berprofesi sebagai dosen di Monash University, Melbourne, Australia ini, nggak cuma jago berbahasa Indonesia. Tapi juga fasih berbahasa Jawa. Indonesianis asal Negeri Kanguru yang kini menjabat sebagai Chair Australia Indonesia Business Council (AIBC) itu, tahu banyak tentang kebudayaan, musik dan makanan khas Indonesia.

Mau tahu apa masakan Indonesia kesukaan Prof Buckingham?

“Dulu saya suka empek-empek kapal selam. Tapi sekarang saya sudah tua, dan (pempek-red) nggak ada sayurnya, kurang sehat. Tapi saya ingat pada masa dulu saya di Yogya, ada satu warung di Jalan Bayangkara, di belakangnya Maliaboro mungkin sekarang sudah tutup. Pemilik warungnya orang kejawen dan mereka punya nasi goreng yang teman-teman saya bilang, nasi goreng paling enak di dunia. (Rasanya) Pedes, ada minyaknya, ada asinnya. Itu yang paling enak,” kisahnya, kepada jurnalis Rakyat Merdeka Kartika Sari dan beberapa Senior Editor peserta Australia-Indonesia Senior Editors Program.

Kamis siang, 21 Mei 2026, tim Senior Editor dari beberapa media asal Indonesia, bertemu Buckingham untuk makan siang di kota Melbourne, negara bagian Victoria. Kami makan siang sambil berdiskusi santai di Restoran MAKAN, yang menawarkan menu Nusantara dan dimiliki orang Indonesia yang tinggal di Melbourne. Menu lunch siang itu antara lain kepiting, ayam goreng, rendang ayam, sayuran, nasi, sambal dan kerupuk yang super kriuk-kriuk dan yummy. Sambalnya super pedas.

Jurnalis Rakyat Merdeka Kartika Sari (kedua kiri) dan beberapa Senior Editor peserta Australia-Indonesia Senior Editors Program makan siang dengan Prof Edward Buckhingham (berdiri tengah) di Restoran MAKAN, Kota Melbourne, negara bagian Victoria, Australia.

Baca juga : Kemenperin Sambut Seruan Presiden Prabowo Percepat Industrialisasi Nasional

Saat ditanya apa nama warung di Yogyakarta yang menjual nasi goreng kesukaannya, Pak Edu, sapaan akrabnya saat tinggal di Indonesia, menjawab, ”Warung itu tidak punya nama. Tapi mereka semua tahu, tempatnya di pinggir jalan. Saya suka sekali tempat jadul.”

Pak Edu yang sangat ramah dan suka tersenyum itu, juga penggemar musik Indonesia. Salah satunya lagu dangdut. Apa judulnya? Sambil tersenyum, dia menjawab, ”Ada beberapa lagu dangdut yang saya suka. Yang satu mungkin nggak pantas ya untuk seorang profesor, judulnya Hamil Duluan.”

Saat ditanya kenapa suka lagu itu, menurutnya, lirik lagu tersebut berbicara tentang sesuatu yang sangat penting. “Walaupun (lirik lagunya-red) lucu, bicara soal seksual dan risikonya, tapi ada unsur edukasinya. Mungkin beliau (penyanyinya-red) dikritik karena mereka bicara soal yang agak sensitif. Tapi saya rasa dalam masa modern, orang muda harus sadar bahwa ya kalau cium-ciumannya kebablasan, akhirnya bisa ada hasilnya (hamil-red). Tapi irama lagu itu juga bagus, very addictive,” jelasnya.

Adsense

Sebagai informasi, lagu Hamil Duluan milik pedangdut Tuty Wibowo itu, dinyanyikan secara lip sync oleh duo Shinta dan Jojo. Lagu tersebut pernah memuncaki top ring back tone (RBT) tanpa promosi pada tahun 2011. Lagu itu juga sempat viral setelah dinyanyikan Bunda Corla.

Baca juga : Prof Didik Soroti Proyek Digitalisasi Pendidikan Era Nadiem

Selain lagu dangdut, Prof Buckingham yang pernah terjun ke dunia bisnis itu, juga menyukai Band KLa Project yang digawangi Katon Bagaskara Cs.

“Saya suka Yogyakarta, lagunya bagus. Menurut saya, KLa Project itu (grup) musik yang sudah berkelas dunia, kan? Iramanya bagus, harmoninya bagus. Orangnya (penyanyinya-red) juga bagus, kan? Ada kelompok, ada rasa. Grupnya yang hebat. Penontonnya juga pada umumnya santai-santai,” ungkapnya.

Selain KLa Project, Buckingham juga penggemar grup band Kantata Takwa yang beranggotakan Iwan Fals, Setiawan Djodi, Rendra, dan Sawung Jabo cs.

“Saya dulu suka Iwan Fals, Setiawan Djodi dari grup Kantata Takwa. Dulu mereka pernah konser. Dan ada satu lagi Iwan Fals, yang bercerita tentang Kho Ping Ho. Kira-kira begini liriknya: ‘Kawanku punya teman, temannya punya kawan, pakai kacamata tebal..’ Dia menceritakan satu mahasiswa yang sibuk sekali, tapi sibuknya tidak terhadap kuliahnya. Paling baca. Paling jauh baca Kho Ping Ho. Nah, kenapa saya suka itu? Karena pada waktu itu, saya lagi sedang membuat riset tentang cerita silat di Indonesia,” beber Buckingham.

Baca juga : Tergelincir Saat Main Ski, Pengalaman Asyik & Fun

Menurut Buckingham, tahun 1980-an dia pernah belajar bahasa Melayu dan SMA di Malaysia. Setelah itu, tahun 1990-an dia tinggal di Yogyakarta untuk kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan melakukan penelitian. Makanya, pria kelahiran Inggris itu sangat menyukai Indonesia, bisa berbahasa Indonesia dan bahasa Jawa.

Buckingham adalah pembaca cerita silat legendaris Kho Ping Ho, yang juga dikenal dengan nama Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo. Dia adalah penulis legendaris Indonesia keturunan Tionghoa yang tersohor karena karya fiksi cerita silat kuno berlatar belakang China kuno. Kho Ping Ho telah menghasilkan ratusan judul buku yang sangat populer dan dibaca oleh berbagai kalangan lintas generasi di Tanah Air.

“Saya hanya pembaca buku Kho Ping Ho. Tapi saya pernah bertemu dengan sang penulis. Saya datang ke rumahnya di Solo, bertemu dengan kedua istrinya dan anak-anaknya,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense