RM.id Rakyat Merdeka - Perang lawan Iran ternyata bukan cuma menguras amunisi, tetapi juga mental prajurit Amerika Serikat (AS). Masa tugas yang diperpanjang hingga ratusan hari, dikabarkan membuat banyak prajurit AS yang stres.
Salah satunya, soal mental prajurit AS yang bertugas di kapal induk USS Abraham Lincoln. Kapal tersebut telah berbulan-bulan berada di kawasan Timur Tengah untuk mendukung operasi militer AS.
Sepekan terakhir, sejumlah media, di antaranya Navy Times dan Stars and Stripes, melaporkan kabar mengenai menurunnya moral prajurit di atas kapal induk itu. Kabar tersebut mencuat ketika penasihat kepala Komando Pusat AS (CENTCOM), Brad Cooper, menyambangi para pelaut dan marinir.
Kunjungan itu dilakukan untuk menanggapi keluhan keluarga prajurit mengenai masa tugas yang dinilai terlalu lama. Sejumlah laporan bahkan menyebut terjadi ketegangan ketika Cooper bertemu para prajurit.
Namun, kabar mengenai adanya perkelahian yang menyebabkan tujuh personel tewas kemudian dibantah oleh CENTCOM. Dalam laporan terpisah, satu personel USS Abraham Lincoln dikabarkan jatuh atau melompat dari kapal karena tekanan berat.
Baca juga : Sehari Setelah Memerah, Pasar Kembali Hijau
Sejumlah laporan lain juga menyebut ada prajurit yang mencoba melompat dari kapal karena tidak tahan dengan kondisi yang dihadapi. Namun, informasi tersebut belum sepenuhnya terverifikasi secara independen.
Berita mengenai banyaknya prajurit yang stres semakin mendapat perhatian setelah anggota parlemen Partai Demokrat Richard Blumenthal menyuarakan keprihatinan melalui surat resmi kepada Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut Hung Cao, Rabu (12/8/2026) waktu setempat.
Blumenthal menyoroti perpanjangan masa penugasan kapal yang membawa sekitar 5.000 personel tersebut di wilayah konflik Timur Tengah. USS Abraham Lincoln diketahui telah berlayar sejak November 2025 dan ditempatkan di kawasan Timur Tengah sejak Januari untuk mendukung operasi militer AS terhadap Iran.
Senator Demokrat itu mengatakan, kapal induk tersebut telah berada di laut selama lebih dari 200 hari tanpa singgah di pelabuhan. Kondisi itu disebut menjadi rekor durasi terlama berada di laut secara berturut-turut dan menimbulkan sejumlah persoalan serius yang berpotensi mengancam keselamatan prajurit.
"Terdapat laporan luas mengenai kekurangan pasokan dasar, kontaminasi air, masalah sanitasi, penurunan kesehatan mental, kekhawatiran keselamatan dek, dan gangguan pada sistem pengiriman surat yang menyebabkan banyak paket bantuan menuju kapal hilang dalam transit selama berbulan-bulan," tulis Blumenthal dalam suratnya, dikutip Anadolu, Jumat (14/8/2026).
Baca juga : Korupsi Transfer Pricing PT TPL, 2 Pegawai Pajak Jadi TSK
Pemimpin Minoritas Senat AS Chuck Schumer bahkan meminta Menhan Pete Hegseth dicopot. Schumer menilai Hegseth tidak kompeten dan salah mengambil strategi sehingga berdampak terhadap para prajurit.
"Semua orang tahu dia sama sekali tidak kompeten. Sekarang para pelaut pemberani kita membayar harganya dengan cara yang mengerikan dan tak terbayangkan. Pete Hegseth harus segera dipecat," tulis senator Partai Demokrat itu dalam unggahan di media sosial X, dilansir Anadolu Agency, Jumat (14/8/2026).
Sementara itu, Pete Hegseth membantah laporan mengenai buruknya kondisi dan menurunnya moral prajurit, khususnya awak USS Abraham Lincoln. Hegseth menegaskan, pemerintah dan militer terus berupaya memenuhi seluruh kebutuhan armada yang bertugas di medan operasi.
"Kami memastikan setiap kapal, setiap awak, dan setiap kapten memiliki semua yang mereka butuhkan setiap saat," ujar Hegseth saat melakukan kunjungan ke Panama, sebagaimana dilansir Reuters, Kamis (14/8/2026).
Dia mengakui sejumlah penugasan memang berlangsung lebih lama dari biasanya. Namun, dia menyatakan menghormati dan berterima kasih kepada para prajurit yang menjalani masa tugas panjang.
Baca juga : Kawal Kebijakan Ekonomi Prabowo, PKB Bentuk Satgas Prabowonomics
"Apa yang mereka lakukan di laut lepas dalam kondisi serba terbatas dengan pelabuhan singgah yang lebih sedikit, itu sangat luar biasa," ujar Hegseth.
Secara umum, kata Hegseth, penugasan Angkatan Laut AS berlangsung selama enam hingga sembilan bulan. Namun, durasi tersebut dapat diperpanjang sewaktu-waktu ketika terjadi konflik terbuka.
Diakuinya, perpanjangan penugasan di zona perang memang menjadi tantangan berat karena berpotensi memicu tekanan mental. Para prajurit USS Abraham Lincoln juga diwajibkan berada dalam tingkat kewaspadaan tinggi untuk mengantisipasi ancaman serangan drone maupun rudal dari Iran.
Juru Bicara Gedung Putih Olivia Wales menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga kesiapan tempur militer AS. Presiden AS Donald Trump dan Hegseth, kata dia, terus memastikan militer AS dilengkapi sumber daya yang diperlukan untuk menghadapi berbagai ancaman. [FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.