RM.id Rakyat Merdeka - Di antara reruntuhan bangunan di Kota Khan Younis, Gaza Selatan, sebuah acara lari digelar untuk anak-anak, Sabtu (1/8/2026). Di balik senyum dan tawa yang pecah saat garis finish dilintasi, tersimpan kisah duka mendalam tentang puluhan ribu anak yang kehilangan orang tua maupun kerabat akibat perang.
Ratusan anak Gaza langsung melesat berlari saat peluit dibunyikan panitia dalam ajang bertajuk “Marathon” yang diinisiasi lembaga kemanusiaan International Networking for Humanitarian (InH) Indonesia.
Untuk sejenak, derap langkah kaki dan riuh sorak-sorai mengalahkan sunyinya reruntuhan bangunan yang mengepung mereka. Beberapa dari mereka bahkan berlari nyeker, tak memakai sepatu.
Namun, tidak semua anak bisa ikut berlari. Beberapa hanya bisa duduk di pinggir lintasan menyaksikan teman-temannya berlari.
Baca juga : Kekuatan Gempa NTT Melebihi Kolombia
Saif Hijazi (13), misalnya. Dia hanya bisa menyaksikan adik-adiknya berlari dari kursi rodanya. Kakinya lumpuh sejak Januari 2025, dampak serangan artileri Israel di dekat tenda pengungsian keluarganya.
“Sejak saya terluka, saya tidak bisa lagi berjalan atau bergerak sendiri. Saya hanya ingin hidup menjadi lebih baik,” katanya, mengutip Al Jazeera.
Ayahnya, Rami Hijazi, telah berpulang pada Januari 2024. Dia gugur dalam serangan udara yang menghancurkan rumah mereka di Gaza utara. “Saya rindu ayah setiap hari. Dulu dia yang mengurus segala kebutuhan kami,” tuturnya, lirih.
Data United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF) mencatat, lebih dari 58.000 anak di Gaza telah kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka. Sementara, lebih dari satu juta anak membutuhkan perlindungan, serta dukungan psikososial.
Baca juga : Iran Pastikan Masih Kuasai Selat Hormuz
Kondisi tersebut menempatkan beban hidup yang luar biasa di pundak para orang tua tunggal yang masih bertahan. Ibu Saif, Warda Hijazi (33), kini harus merawat Saif yang juga mengalami gangguan ginjal.
Di saat yang sama, dia harus membesarkan dua anaknya yang lain, Sarah (9) dan Ammar (10), di lokasi pengungsian Al-Zawaida.
“Saya berusaha menggantikan rasa kasih sayang yang hilang. Kadang saya merasa beban ini melebihi kemampuan saya. Tetapi saya tidak punya pilihan selain terus bertahan,” ungkap Warda.
Hal serupa dirasakan Samah Abu Amra (43), seorang janda dari Rafah yang kini membesarkan lima anak seorang diri. Suaminya tewas dalam serangan udara di Khan Younis.
Baca juga : Gibran Kukuhkan 76 Anggota Paskibraka
Samah bersyukur anak-anaknya dapat mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, anak-anak tidak hanya membutuhkan makanan dan tempat tinggal, tetapi juga dukungan psikologis dan emosional.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.