BREAKING NEWS
 

Gertakan Terbaru Presiden AS: Selat Hormuz Jadi Selat Trump

Reporter : FAQIH MUBAROK
Editor : UJANG SUNDA
Jumat, 4 September 2026 08:26 WIB
Presiden AS Donald Trump (Foto: Reuters)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perang Amerika Serikat (AS) versus Iran kembali berkobar. Selain melancarkan serangan, Presiden AS Donald Trump mencoba melemahkan Iran dengan gertakan baru. Trump ingin mengubah nama Selat Hormuz menjadi Selat Trump.

Keinginan tersebut disampaikan Trump melalui unggahan di media sosial Truth Social, Rabu (2/9/2026). Trump mengklaim, Selat Hormuz kini berada di bawah kendali penuh militer AS.

"Setelah kami menguasai, haruskah kita mengubah nama Selat Hormuz menjadi Selat Trump? Selat itu akan menjadi lebih panas dari sebelumnya!" tulis Trump, seperti dilansir AFP, Kamis (3/9/2026).

Ini bukan kali pertama Trump mengklaim Selat Hormuz. Agustus silam, Trump bahkan mengunggah peta yang menyebut Selat Hormuz sebagai New U.S. Territory.

Baca juga : Tak Naikkan Tarif Listrik & BBM Subsidi, Pemerintah Jaga Stabilitas Ekonomi

Trump juga sesumbar, militer AS siap kembali menggempur Iran kapan saja. Trump mengklaim, serangan terbaru AS telah melenyapkan semua peralatan militer baru Iran di sepanjang Selat Hormuz.

"Mereka hanya membalas dengan pukulan ringan. Kita menghantam mereka dengan keras. Tapi, kita siap melancarkan serangan lagi, kapan saja kita mau," ucap Trump, di Ruang Oval Gedung Putih, seperti dilansir AFP dan Al Jazeera, Kamis (3/9/2026).

Mengenai waktu operasi militer terbaru AS ke Iran, Trump belum bicara detail. "Saya rasa tidak akan terlalu lama," ucapnya.

Adsense

Trump lalu bicara mengenai tujuan menyerang Iran. Kata dia, langkah itu dilakukan demi melindungi Israel, Timur Tengah, dan negara-negara Barat.

Baca juga : Prabowo Tamu Spesial Putin

"Ini untuk membantu Israel, demi kepentingan kita, karena setelah mereka memusnahkan Israel, lanjut Timur Tengah, kemudian Eropa, dan mengincar beberapa kota kita," ucapnya.

Klaim Trump soal Selat Hormuz ini muncul di tengah aksi militer kedua negara yang kembali meningkat. Dalam sepekan ini, AS dan Iran kembali saling serang. AS menggempur sejumlah sasaran di wilayah selatan Iran. Sementara Iran merespons dengan menyerang fasilitas yang terkait dengan pasukan AS di Yordania, Bahrain, Kuwait, dan Irak.

Sehari terakhir, intensitas aksi saling serang menurun. Hanya ada beberapa serangan, salah satunya Iran yang meluncurkan rudal dan drone ke wilayah Kuwait, Kamis (3/9/2026).

"Pertahanan udara Kuwait saat ini sedang menghadapi serangan rudal dan drone musuh," tulis militer Kuwait via media sosial X, seperti dilansir AFP, Kamis (3/9/2026).

Baca juga : Buntut El Nino, Harga Sembako Merangkak Naik

Sementara, Juru Bicara Kementerian Kesehatan Iran Hossein Kermanpour melaporkan, sejauh ini ada 142 orang luka akibat rentetan serangan AS. Terdiri atas 61 perempuan dan 44 laki-laki yang berusia di bawah 18 tahun. Sebanyak 18 orang meninggal dunia.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei memperingatkan, AS akan menghadapi strategi baru dari Iran. Strategi ini diklaim akan meruntuhkan fondasi Washington.

"Strategi baru Iran akan membuat AS tidak bisa keluar dari jurang neraka" ancam Razaei, seperti dilansir Press TV dan AFP, Kamis (3/9/2026).

Rezaei lalu menyindir, AS sedang melakukan strategi dan upaya putus asa. "Strategi baru Iran, baik di medan pertempuran, diplomasi, maupun menghadapi blokade ekonomi, jelas akan meruntuhkan fondasi Anda," ucapnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense