RM.id Rakyat Merdeka - Amerika Serikat (AS) menyerang sejumlah target di Iran, Selasa (1/9/2026). Salah satunya mengenai rumah warga sipil di Kuhestak, Provinsi Hormozgan, Iran bagian selatan, yang tengah menggelar pesta pernikahan.
Wakil Gubernur Hormozgan Ahmad Nafisi melaporkan, lima orang meninggal akibat serangan AS tersebut. Termasuk anak-anak. Sebanyak 68 lainnya terluka.
Iran mengecam keras serangan ini. Kepala Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) Ahmad Vahidi bersumpah akan balas dendam atas kematian lima warga sipil tersebut.
"Darah murni para martir ini tidak akan dibiarkan begitu saja dan pasti akan dibalas," kata Vahidi, dalam sebuah pernyataan yang disiarkan televisi Pemerintah Iran, dilansir Al Arabiya dan AFP, Jumat (4/9/2026).
Baca juga : Langit Indonesia Ditutupi Asap Tebal
Sebelumnya, Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyebut, AS sebagai setan. "Jika suatu kekuatan bertindak seperti setan, memilih target seperti setan, dan membunuh seperti setan, itu adalah Setan," tulis Ghalibaf, seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (2/9/2026).
Pihak AS ngeles. Komando Pusat AS CENTCOM membantah adanya serangan itu. Mereka menyebut, informasi itu hanya berasal dari media Pemerintah Iran.
"Militer AS tidak pernah menargetkan warga sipil, tidak seperti IRGC," ujar Juru bicara CENTCOM Tim Hawkins, seperti dilansir AFP, Rabu (2/9/2026).
Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance mengungkap, Washington tengah menyelidiki laporan serangan udara yang disebut menghantam pesta pernikahan itu. Vance menyatakan, korban sipil bisa saja terjadi selama operasi militer.
Baca juga : Soroti Situasi Global, Prabowo: Kami Tak Masuk Aliansi Militer Mana Pun
"Sayangnya terkadang hal-hal seperti itu terjadi. Tapi saya sangat skeptis mengenai hal ini," ucap Vance, seperti dilansir TRT World dan Reuters, Jumat (4/9/2026).
Vance mengaku telah menerima laporan singkat penyelidikan tersebut. Akan tetapi, pihaknya belum memiliki informasi yang memastikan, apakah pasukan AS yang benar-benar melakukannya.
Ia menambahkan, jika militer AS melakukan kesalahan, pihaknya akan menyelidikinya dan berupaya mengambil pelajaran dari kesalahan tersebut.
"Karena tentu saja kami peduli. Kami ingin tahu apakah kami melakukan kesalahan. Inilah perbedaan besar antara kami dan Iran, ketika militer kami melakukan kesalahan, mereka belajar darinya dan mencoba menjadi lebih baik," sambungnya.
Baca juga : Kunjungi Jokowi Di Solo, PM Timor Leste Disuguhi Kwetiau & Onde-onde
Namun, Vance menegaskan, militernya tidak pernah sekalipun secara sengaja menargetkan warga sipil. "Hal yang dapat saya katakan dengan keyakinan 100 persen adalah tidak seperti IRGC, Amerika Serikat tidak pernah menargetkan warga sipil dalam pertempuran. Kami tidak akan pernah melakukan hal semacam itu. Kami belum pernah melakukannya," kilah Vance.
Dalam laporan Reuters, seorang pejabat AS yang enggan disebut identitasnya mengatakan, Pemerintah AS sedang mengkaji berbagai skenario terkait jatuhnya korban jiwa dalam serangan tersebut, termasuk kemungkinan penyebabnya. Apakah akibat serangan AS, atau akibat pantulan dari rudal pertahanan udara Iran, atau rudal pencegat yang meleset dari sasaran.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.