RM.id Rakyat Merdeka - Perusahaan Indonesia berhasil menarik investor dari China untuk kerja sama panel surya fotovoltaik (PV) dengan investasi tahap awal senilai 60 juta dolar AS atau sekitar Rp 1 triliun (1 dolar AS = Rp 17.620).
Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk China Djauhari Oratmangun ikut menyaksikan penandatanganan kesepakatan kerja sama itu.
“Kerja sama investasi ini diharapkan berkontribusi pada pencapaian target pemanfaatan energi baru dan terbarukan di Indonesia,” harap Dubes Djosapaan Djauhari Oratmangun, dikutip dari postingan di akun Instagram Konsul Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong, Kamis (3/9/2026).
Penandatanganan kerja sama itu dilakukan Direktur PT Solarex Global Energi (anak perusahaan PT ESCO Mineral Indonesia) Alexander Gevanno dengan Chief Executive Officer (CEO) ABES Technology Group Co., Ltd. Victor Cheung di Hong Kong, Senin (31/8/2026). Proses penandatanganan ini juga disaksikan Konsul Jenderal RI untuk Hong Kong dan Makau Andi Ardiansyah.
Baca juga : Konsisten Terapkan Energi Terbarukan, PT IIM Boyong Penghargaan CSR Awards
Dalam keterangan KJRI Hong Kong, tahap pertama kerja sama adalah mendirikan fasilitas perakitan modul panel surya di Indonesia dengan memanfaatkan teknologi panel surya Generasi II yang tersedia secara komersial.
Berdasarkan perjanjian tersebut, mitra dari China, ABES akan berkontribusi dalam penyediaan teknologi panel surya Generasi II, keahlian teknis, peralatan dan mesin yang dibutuhkan serta pendanaan.
Sementara, kontribusi perusahaan Indonesia berkaitan dengan perizinan berdasarkan peraturan di Indonesia, distribusi, pengembangan komersial, dan pengembangan pasar lokal.
PT ESCO bergerak dalam pengembangan dan komersialisasi produk silika dengan kemurnian tinggi yang berasal dari operasi penambangannya di Kalimantan Barat, dengan klien dari industri fotovoltaik, semikonduktor, kaca dan manufaktur canggih.
Baca juga : Geothermal Bukan Sekadar Energi Hijau, Harus Dibarengi Distribusi Kesejahteraan
Sedangkan ABES Technology Group Co., Ltd. didirikan di Hong Kong dan merupakan perusahaan bidang manufaktur dan desain catu daya. Produk-produknya digunakan di berbagai sektor, seperti industri, medis, telekomunikasi dan lainnya.
Kerja sama tersebut dinilai KJRI Hong Kong sejalan dengan program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) nasional 100 GWp yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 25 Agustus 2026. Proyek itu dimulai dengan 14 proyek berkapasitas sekitar 5,3 GWp.
Program tersebut diperkirakan membutuhkan investasi sekitar 73 miliar dolar AS yang mencakup proyek di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Bangka Belitung dan Kepulauan Riau.
Fase pertama mencakup model pengembangan PLTS yang dipasang di tanah, mengambang, yang menunjukkan penerapan luas teknologi surya dalam sistem kelistrikan masa depan Indonesia. DAY
Baca juga : Sinergi PLN Group, PLN Icon Plus Dukung Percepatan Program PLTS 100 GWp
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 10, edisi Sabtu, 5 September 2026 dengan judul "Duta Besar Indonesia Untuk China Djauhari Oratmangun Jadi Saksi Penandatanganan Kerja Sama Proyek Panel Surya"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.