RM.id Rakyat Merdeka - Vietnam tak tinggal diam menyikapi aksi China di Laut China Selatan (LCS). Vietnam bahkan menggelar latihan perang di dekat Kepulauan Spratly yang jadi salah satu objek sengketa.
Wilayah itu juga diklaim Vietnam. Kendati demikian, China telah mendirikan sejumlah instalasi militer. Dan, di hadapan instalasi militer itu, kapal perang tipe fregat milik Vietnam, Quang Trung, dan helikopter tempur mereka, unjuk kemampuan.
Di Whitsun Reef, titik sengketa lain di LCS, Vietnam menempatkan kapal penjaga pantai. Mereka mengawasi sekitar 220 personil militer China yang aktif bergerak di wilayah tersebut. "Aktivitas kapal China sangat melanggar kedaulatan Vietnam," pernyataan Kementerian Luar Negeri Vietnam, dikutip dari News.com.au, kemarin.
Situasi di wilayah itu digambarkan semakin tegang. China mengerahkan sejumlah kapal tempur tipe Catamaran 022 (Houbei Class). Salah satu kapal angkatan laut bersenjata rudal tersebut, pekan lalu, mengintimidasi kapal yang membawa media Filipina.
Baca juga : Kasus Korupsi Bintan, KPK Cegah Dua Orang ke Luar Negeri
Pengamat keamanan maritim Universitas Nanyang Singapura Collin Koh menilai, penggunaan kapal perang alih-alih kapal penjaga pantai, menunjukkan situasi tidak biasa-biasa saja. Koh menilai, kepura-puraan Beijing yang mengklaim hanya mengerahkan kapal penjaga pantai untuk mempromosikan perdamaian dan stabilitas di LCS, sudah berakhir.
"Bukti saat ini menunjukkan, kapal Angkatan Laut China terlibat aktif berpatroli bersama kapal penjaga pantai," kata Koh.
"Mereka mengklaim wilayah itu sebagai yurisdiksinya, di bawah klaim sembilan garis putus-putus (Nine Dash Line)," sambung Koh.
Vietnam mulai meningkatkan penjagaan di pos-pos terdepannya di Kepulauan Spratly. Sebagian besar fasilitas Vietnam di Spratly sudah memiliki pertahanan udara dan bunker artileri. Tetapi foto-foto satelit baru-baru ini mengungkapkan, semua 10 pulau yang dikendalikannya menampilkan pertahanan baru.
Baca juga : Diangkut Kapal Perang, Ribuan Paket Sembako Jokowi Tiba Di NTT
Sebelumnya, Vietnam dan China terlibat dalam perang singkat pada 1979. Hanoi berhasil memukul mundur China ke utara Vietnam. Tapi, China berhasil menguasai sebagian besar Kepulauan Paracel yang berada di antara kedua negara. Setelah itu, kapal-kapal kedua negara kerap bentrok di LCS.
Selain dengan Vietnam, China juga terlibat bentrok dengan Filipina. Pada 1994, di kawasan Mischief Reef, China membanguh sejumlah instalasi, lengkap dengan lapangan terbang, pelabuhan, dan sistem persenjataan.
"Kehadiran Angkatan Laut China di daerah itu menunjukkan niat mereka untuk menduduki Laut Filipina Barat (LCS)," kata Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana.
Saat ini, militer China semakin tersebar di LCS. Yang telah mendorong Amerika Serikat (AS) mengeluarkan peringatan keras. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price menyebut, serangan terhadap angkatan bersenjata Filipina, kapal dan pesawat terbang di Pasifik, termasuk di LCS, akan memicu AS beraksi.
Baca juga : Bos PAN Kerahkan Kadernya Bantu Korban Bencana Di NTT
"Di bawah Perjanjian Pertahanan Bersama AS-Filipina. Kami prihatin dengan apa yang dialami sekutu kami di Whitsun Reef," tandas Price.[PYB]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.