Sebelumnya
Pendek kata, IKN harus menjadi Ibu Kota dari rakyat Indonesia, oleh rakyat Indonesia, untuk bangsa Indonesia.
Kalau IKN kelak tumbuh pesat, dunia internasional otomatis akan datang sendiri.
Prioritas paling utama bagi IKN adalah menjadikannya sebagai suatu pusat Pemerintahan dalam suatu kota, yang dapat mempunyai penduduk sendiri (di luar ASN, militer, polisi), sehingga IKN menjadi kota yang benar-benar hidup, bukan kota kosong penghuni.
Ini tantangan besar, karena di Korea, Sejong City sendiri, walaupun sebelumnya sudah ada penduduk lokal, dan dengan fasilitas perkotaan yang serba hijau dan serba canggih, masih kesulitan mengumpulkan penduduk lokal —sampai sekarang baru sekitar 350.000 warga, dengan target 500.000 di tahun 2030.
Baca juga : Hijaukan IKN, Jokowi Resmikan Persemaian Mentawir
Saya juga berpendapat, tidak perlu menargetkan IKN untuk menjadi kota pariwisata, atau pusat keuangan, karena tidak semudah itu — Jakarta saja sampai sekarang belum bisa dikategorikan sebagai kota tujuan untuk pariwisata internasional.
Canberra, Brasilia, Sejong City, Putra Jaya, juga bukan kota pariwisata atau pusat keuangan. Mereka murni kota pusat Pemerintahan.
Ketiga, bangunlah IKN dengan kemampuan dan sumberdaya kita sendiri. Saya setuju dengan pernyataan Presiden terpilih Prabowo Subianto di Qatar baru-baru ini yang menyatakan, kita perlu membangun IKN dengan kemampuan sendiri.
Mengapa? Karena status Ibu Kota, berbeda dari status kota-kota lainnya di Indonesia. Ibu Kota itu berbeda sekali dari kawasan industri, atau kawasan pariwisata.
Baca juga : Malam Ini, Sukabumi Digoyang Gempa M3,1 Kedalaman 5 Km
Membangun Ibu Kota suatu negara itu adalah suatu proyek politik, bukan proyek ekonomi. Sebagai pusat pemerintahan, Ibu Kota adalah simbol kedaulatan, mahkota bangsa. Karena sifatnya yang sangat strategis sebagai jantung negara, Ibu Kota harus dilindungi dari ketergantungan terhadap pihak luar. Jangan sampai dalam proses membangun Ibu Kota sendiri, kita menjadi berhutang budi terhadap bangsa lain.
Lihat saja contoh negara-negara berikut yang memindahkan lokasi ibukotanya atau membangun Ibu Kota baru.
Australia ketika membangun Ibu Kota Canbera, tidak meminta bantuan negara manapun. Brazil juga tidak, ketika membangun Brasilia. Korea Selatan juga tidak meminta bantuan negara lain, ketika membangun ibukota administratif Sejong City.
Negara tetangga kita, Malaysia, membangun ibukota baru Putra Jaya sepenuhnya dengan biaya sendiri. Myanmar juga tidak minta pertolongan internasional, ketika membangun ibukota baru, Naypyidaw. Demikian juga Kazakhtan, ketika membangun ibukota Astana. Dan juga Pakistan, ketika membangun ibukota baru, Islamabad.
Baca juga : Bicara Suksesi PKB, Gus Ipul Goyang Gus Imin
Baik bagi negara maju maupun berkembang, mereka semua menganggap, pembangunan Ibu Kota sepenuhnya adalah urusan dalam negeri, dan masalah kedaulatan, dan bahkan masalah martabat dan harga diri suatu bangsa.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.