Dalang Wayang Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Ambisi Elon Musk menguasai sistem pemerintahan Amerika Serikat dengan menempatkan para eksekutif teknologi memicu pro dan kontra. Awalnya penunjukan Elon Musk hanya untuk memangkas pengeluaran dan meningkatkan efisiensi. Namun belakangan, dia menyisir data-data sensitif seperti IRS, departemen pendidikan, dan pengadaan senjata. Kongres Amerika merasa dilangkahi dengan menuver Elon Musk tersebut. Bukan tidak mungkin hal ini dapat memicu krisis konstitusional Amerika.
“Kalau di sini terbalik Mo. Dewan ingin mengontrol kewenangan para pejabat,” celetuk Petruk sok tahu. Romo Semar tidak mau ambil pusing dengan komentar Petruk. Romo Semar sedang galau dengan dampak kebijakan grasa-grusu tata kelola gas elpiji rakyat. Kebijakan publik seharusnya diuji coba dulu sebelum diterapkan agar tidak menimbulkan kegaduhan.
Seperti biasa, Romo Semar mengawali paginya dengan sruputan kopi pahit. Pisang rebus dan jadah bakar merupakan menu favorit padepokan Klampis Ireng. Genangan air masih tinggi akibat guyuran hujan salah mongso semalam. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatan Romo Semar ke zaman Purwa. Di mana, Manik Maya atau Bethara Guru sangat bernafsu melebarkan kekuasaannya ke Arcapada.
Baca juga : Pasukan Yuyu Rumpung Perusak Samudera
Kocap kacarito, Shang Hyang Wenang memiliki tiga anak. Yang pertama bernama Antaga atau Togog. Ismaya atau Semar merupakan anak kedua. Sedangkan Manik Maya atau Bethara Guru merupakan anak bontot. Ketiga anak tersebut telah diberikan kekuasaan dan wewenang masing-masing.
Antaga diberi kekuasaan sebagai pamong para raja yang berperilaku tidak baik. Kebanyakan raja-raja tersebut berwujud raksasa. Ismaya diberi tugas sebagai pamong para raja dan satria luhur. Manik Maya sebagai penguasa tunggal para dewa di Khayangan Jongring Saloka.
Dalam perjalanannya, Manik Maya ingin menguasai Arcapada yang sudah jadi wewenangnya Ismaya dan Antaga. Bethara Guru sengaja melebarkan kekuasaannya untuk membuktikan bahwa dirinya lebih sakti dibanding kedua saudaranya. Ismaya dan Antaga tidak terima dengan cawe-cawe Bethara Guru tersebut.
Baca juga : Memboyong Kembali Dewi Sri
Ismaya menegur Bethara Guru untuk tidak intervensi kekuasaan di Arcapada. Bukannya terima kasih diingatkan, Bethara Guru justru menantang duel Ismaya dan Antaga. Terjadilah perang saudara untuk membuktikan siapa yang pantas jadi penguasa triloka.
Shang Hyang Wenang turun tangan dan melerai pertikaian ketiga anaknya. Bethara Guru dianggap bersalah karena ikut campur wilayah Ismaya dan Antaga. Sebagai hukumannya, untuk sementara waktu kekuasaan Khayangan Jonggring Saloka dipegang langsung Shang Hyang Wenang. Ismaya kembali menjadi pamong satria luhur. Sedangkan Antaga kembali ke tanah sabrang untuk memimpin para raksasa.
“Yang namanya kekuasaan tidak kenal saudara, Mo,” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Kekuasaan ibarat candu, tidak pernah cukup dan terpuaskan,” jawab Romo Semar Pendek. Kekuasaan besar memiliki tanggung jawab besar. Dengan kekuasaan yang dimiliki, seorang pemimpin seharusnya mampu mensejahterakan rakyat. Kekuasaan bukan untuk sewenang-wenang dan mematikan lawan poltik. “Kekuasaan yang diselewengkan selain berpotensi menimbulkan krisis konstitusi, dapat menciptakan ketidakpastian,” papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.