Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Jihad berasal dari bahasa Arab. Dari akar kata jahada, berarti bersungguh-sungguh. Dari akar kata ini membentuk tiga kata kunci, yakni jihad (perjuangan dengan fisik), ijtihad (perjuangan dengan nalar) dan mujahadah (perjuangan batin).
Sinergi antara jihad, ijtihad dan mujahadah inilah yang disebut jihad sesungguhnya. Dan inilah yang selalu dicontohkan Rasulullah.
Jihad yang sebenarnya tidak pernah terpisah dengan ijtihad dan mujahadah. Jihad harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan kekuatan ijtihad dan mujahadah. Jihad tanpa perhitungan matang, apalagi mendatangkan mudarat lebih besar daripada manfaatnya, sesungguhnya tidak bisa disebut jihad, tetapi lebih tepat disebut dengan keonaran (fasad), yaitu tindakan nekat dan sia-sia yang dilegitimasi dengan ayat atau hadis.
Baca juga : Belajar Kearifan Dari The Founding Fathers
Jihad bertujuan untuk menghidupkan orang dan mewujudkan kemaslahatan. Jika orang gugur di dalam medan jihad termasuk kategori mati syahid (syuhada’). Sedangkan fasad bertujuan untuk mengorbankan orang dan menimbulkan kerugian (mafsadat) dan rasa takut. Jika gugur di dalamnya bisa termasuk dalam kategori mati konyol.
Orang ini dapat dianalogikan dengan hadis yang mengatakan orang yang mati bunuh diri, mati kafir. Orang yang sudah tahu akibat buruk dan segala risiko tetapi masih terus dilakukan maka termasuk perbuatan konyol.
Jihad Rasulullah lebih mengedepankan pendekatan soft of power. Ia lebih banyak menyelesaikan persoalan dan tantangan dengan pendekatan non-militeristik. Ia selalu mengedepankan cara-cara damai dan manusiawi. Bentrok fisik selalu menjadi allternatif terakhir. Itupun sebatas pembelaan diri. Kalau terpaksa harus melalui perang fisik terbuka,
Baca juga : Antara Kebablasan Dan Pembengkakan Kualitas
Nabi selalu mengingatkan pasukannya agar tidak melakukan tiga hal, yaitu tidak membunuh anak-anak dan perempuan, tidak merusak tanaman, dan tidak menghacurkan rumah-rumah ibadah musuh. Kalau musuh sudah angkat tangan, apalagi kalau sudah bersyahadat, tidak boleh lagi diganggu.
Rasulullah pernah marah kepada panglima angkatan perangnya, Usamah, lantaran Usamah membunuh seorang musuh yang terperangkap lalu mengucapkan syahadat. Nabi bersabda: “Kita hanya menghukum apa yang tampak dan Allah yang menghukum apa yang tak tampak (akidah)”. Akhlaqul karimah tidak pernah ia tinggalkan sekalipun di medan perang.
Kemuliaan jihad tak perlu diragukan. Seseorang yang gugur di medan jihad akan langsung masuk syurga, bahkan kalau terpaksa, “tidak perlu dikafani, cukup dengan pakaian yang melekat di badannya, karena bagaimanapun yang bersangkutan akan langsung masuk syurga”, kata Rasulullah SAW.
Baca juga : Antara Sentripetal Dan Sentrifugal
Namun kekuatan ijtihad tidak kalah pentingnya dengan jihad secara fisik. Nabi secara arif pernah menyatakan bahwa: “Goresan tinta pena ulama lebih mulia daripada percikan darah para syuhada”.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.