Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Moderasi Beragama Di Indonesia (34)
Antara Kebablasan Dan Pembengkakan Kualitas
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Sikap ambivalensi masyarakat dalam merespon perubahan sosial semakin tampak. Perjalanan reformasi selama lebih dari satu dekade belum menunjukkan arah yang lebih jelas. Pro kontra dari berbagai pengamat masih saja terus dilancarkan, terutama pertanyaan sekitar persiapan pemerintah di dalam menghantarkan Indonesia ke dalam babak baru peradaban dunia.
Ada kalangan yang pesimistik, seolah-olah Indonesia ini menjadi negara gagal di dalam menyiapkan diri memasuki babak baru tersebut. Kelompok ini cenderung pesimistik menatap masa depan.
Mereka menilai perkembangan masyarakat mengalami stagnan bahkan dekaden, yang ditandai lahirnya masyarakat yang cenderung meninggalkan tata karma dan keadaban publik.
Baca juga : Antara Sentripetal Dan Sentrifugal
Di pihak lain ada kalangan yang over-confidence, bahwa Indonesia sudah on the right track atau ke arah itu. Buktinya secara kuantitatif pertumbuhan ekonomi makro dan daya saing bangsa Indonesia tidak terlalu jauh dengan negara-negara maju.
Bahkan Indonesia satu-satunya di kawasan Asia Tenggara yang masuk di dalam kelompok negara G-20, dan hanya tiga negara berpenduduk mayoritas Islam di dalamnya, yaitu Indonesia, Turki dan Saudi Arabia.
Kelompok lain lebih moderat dan proporsional, yaitu kelompok yang secara obyektif mengakui kemajuan dan keunggulan bangsanya dalam beberapa hal namun mengakui juga ada hal-hal yang sangat lemah, bahkan sangat memprihatinkan, seperti persoalan korupsi dan lemahnya SDM secara umum. Kelompok ini cukup punya kepercayaan diri dalam menatap masa depan dengan catatan harus dengan kerja keras.
Di manapun kita berada di antara ketiga pendapat itu, yang penting perlu dibedakan antara kebablasan dan pembengkakan kualitas anak bangsa. Kita tidak boleh larut untuk mengatakan bahwa semua yang berbeda dengan prinsip hidup kita adalah bukti kelemahan atau kebablasan.
Kita juga tidak boleh dibuai mimpi indah seolah kita tidak punya masalah mendesak dan memprihatinkan. Kita perlu berfikir jernih, jangan sampai apa yang selama ini dianggap fenomena kebablasan justru bagian dari pembengkakan kualitas anak bangsa yang sedang dalam proses mencari bentuk.
Sebuah sikap dan karakter ideal memang harus melalui proses penempaan yang cukup. Tidak ada generasi emas lahir begitu saja tanpa melalui sutu proses. Jangan sampai apa yang sedang terjadi dewasa ini bagian dari anak tangga untuk naik ke jenjang peradaban yang lebih baik.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.