BREAKING NEWS
 

Mempersiapkan Kiblat Baru Peradaban Dunia Islam (3)

Peradaban Islam: Iqra’ bi Ism Rabbik (Bagian 1)

Rabu, 16 Juli 2025 06:30 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Menarik untuk diperhatikan, Prof LWH Hull dalam buku monumentalnya yang diterbitkan History and Philosophy of Science mengungkapkan siklus pergumulan antara agama, filsafat dan ilmu, yang kemudian melahirkan corak peradabannya masing-masing, terjadi setiap enam abad.

Ia mulai mengkaji enam abad Sebelum Masehi (SM) sampai abad pertama Masehi, ditandai dengan lahir dan berkembangnya pemikiran tokoh-tokoh filsafat Yunani yang amat tersohor seperti Tales (ahli filsafat, astronomi, dan geometrika), Pythagoras (geometrika dan aritmatika), Aristoteles (ahli filsafat, ilmu empiris, yang juga dikenal sebagai pendiri Mazhab Alexandria, yang lebih menekankan pendekatan induktif), Plato (ahli filsafat, ilmu-ilmu rasional, yang lebih dikenal dengan pendiri Mazhab Athena, yang lebih menekankan pendekatan deduktif). Pada periode ini, para filsuf menenggelamkan peran dan popularitas pemimpin politik dan pemimpin agama.

Baca juga : Memahami Asas Peradaban Islam

(VI M). Periode ini ditandai dengan merosotnya pengaruh dan popularitas para filsuf dan menguatnya peran penguasa yang sekaligus sebagai penguasa gereja. Mereka mengatasnamakan diri sebagai wakil Tuhan di bumi.

Dengan demikian, otoritas dan penentu kebenaran berada di tangan Raja (Romawi). Dalam periode ini hampir tidak ditemukan tokoh pemikir dan filsafat. Sebaliknya tercatat sejumlah raja yang sangat full power.

Baca juga : Belajar Dari Kejutan Gurun Pasir Tanah Arab

Di masa ini, orang-orang tidak berani berpikir dan mengkaji ilmu pengetahuan, karena bisa saja berarti malapetaka baginya, terutama jika teori dan hasil pemikirannya berbeda, apalagi bertentangan dengan pendapat gereja (baca: agama).

Adsense

Tidak sedikit pemikir dan ilmuwan jadi korban karena mereka mencoba memperkenalkan kebenaran di luar gereja. Akibatnya, muncul zaman kegelapan ketika tidak ada lagi keberanian untuk melakukan pengkajian dan aktivitas ilmu pengetahuan.

Baca juga : Bagaimana Melaksanakan Dam?

Kondisi objektif seperti ini menurut Marshall GS Hodgson dalam “The Venture of Islam”, yang kemudian disebut dengan “zaman jahiliyah” dan sekaligus menjadi background lahirnya agama dan peradaban Islam.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense