Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Pada periode pemerintahan Turki Utsmani, yang pertama kali didirikan oleh Utsman I (Osman) di Anatolia, kekuasaan dinasti ini terbagi ke dalam tiga fase utama: masa pendirian dan ekspansi, masa puncak kejayaan, serta masa kemunduran.
Pada periode pertama, yakni masa pendirian Dinasti Utsmani (±1299–1453 M), kerajaan ini awalnya merupakan salah satu emirat kecil yang muncul setelah runtuhnya Kesultanan Seljuk Rum.
Baca juga : Industri Kreatif Jadi Mesin Pertumbuhan
Pada masa ekspansi awal, khususnya pada masa pemerintahan Orhan dan Murad I, wilayah kekuasaan mereka meluas ke Semenanjung Balkan. Mereka juga membentuk pasukan elite Janissari (Yaniseri) yang menjadi tulang punggung kekuatan militer Utsmani.
Salah satu prestasi gemilang pada masa ini adalah keberhasilan menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453 M. Puncaknya terjadi saat Sultan Muhammad II Al-Fatih merebut Konstantinopel (ibu kota Kekaisaran Bizantium). Peristiwa ini menandai berakhirnya Abad Pertengahan dan berdirinya Kekhalifahan Utsmani, dengan Istanbul (nama baru Konstantinopel) sebagai ibu kotanya. Satu per satu negara-negara Muslim yang sebelumnya dijajah mulai dibebaskan kembali oleh Sultan Muhammad II.
Baca juga : Belajar Dari Baitul Hikmah: Pengaruh Kehancuran Baitul Hikmah
Periode selanjutnya, yaitu periode puncak dan kejayaan (1453–1566 M), ditandai dengan keberhasilan Utsmani menguasai tiga benua: Asia, Afrika, dan Eropa. Di bawah kepemimpinan Sultan Sulaiman I Al-Qanuni (Sulaiman yang Agung, 1520–1566 M), wilayah kekuasaan Utsmani membentang dari Hongaria di Eropa hingga Yaman di Jazirah Arab dan Aljazair di Afrika Utara.
Puncak peradaban Utsmani juga ditandai oleh kemajuan dalam sistem hukum, administrasi, dan arsitektur, termasuk karya-karya arsitek legendaris Mimar Sinan.
Baca juga : Belajar Dari Baitul Hikmah: Perpecahan Dalam Tubuh Dinasti Khan
Sultan Sulaiman juga mengambil gelar Khalifah, menjadikan Utsmani sebagai pemimpin politik dan spiritual umat Islam sedunia. Namun, hingga kini Turki belum menunjukkan munculnya gerakan internasional yang benar-benar dirasakan oleh dunia, khususnya oleh negara-negara Muslim lainnya.
Periode ketiga adalah masa kemunduran dan keruntuhan (1566–1924 M). Setelah wafatnya Sulaiman Al-Qanuni, kekuasaan dinasti ini mulai melemah akibat berbagai persoalan internal dan tekanan eksternal. Salah satu kelemahan yang paling menonjol adalah turunnya kualitas para sultan penerus. Korupsi merajalela, sementara sistem birokrasi dan militer mengalami stagnasi, terutama karena pasukan Janissari yang mulai memberontak dan menolak modernisasi.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.