BREAKING NEWS
 

Bekerja Nir-Sorotan

Senin, 8 Desember 2025 09:53 WIB
Prof. DR. Imam Subchi, MA
Wakil Rektor II UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 Sebelumnya 
Diketahui, sejumlah tokoh filsafat Jawa melakukan pola topo ngrame dalam melakukan aktivitasnya. Misalnya saja saat Sunan Kalijaga memperkenalkan Islam ke wilayah Cirebon dan sekitarnya, ia dikenal sebagai Syekh Malaya. Di sana ia tidak hadir sebagai seorang ulama dengan ilmu yang banyak dan dominan, melainkan seorang pengelana yang membantu penduduk kecil sekaligus memperkenalkan mereka dengan ajaran Islam yang luhur.

Perilaku seperti ini harus dibaca dan diaplikasikan kembali, sebelum diri kita benar-benar dilalap oleh narsisme sorotan yang berlebih sehingga membuat diri ini menjadi manusia disorientasi.

Manusia Gagal
Mencermati perilaku narsisme akan relevan dihubungkan dengan karya monumental sastra Jepang berjudul Ningen Shikkaku (1948), yang ditulis oleh Osamu Dazai, yang diterjemahkan dalam versi Bahasa Indonesia menjadi Gagal sebagai Manusia. Karya ini bukan sekadar kisah tentang seorang pria yang teralienasi. Novel ini merupakan eksplorasi mendalam tentang kehancuran manusia yang terjadi ketika ia lebih memilih untuk hidup sebagai karikatur dirinya demi pengakuan sosial. Lewat tokoh Yozo Oba, pembaca disadarkan akan bagaimana kegagalan menjadi manusia berawal dari ketidakmampuan untuk menjadi autentik.

Baca juga : Demokrasi Di Atas Awan

Dalam konteks kontemporer, sindrom Yozo Oba ini menemukan manifestasinya yang akut pada manusia yang haus akan sorotan kamera. Mereka yang hidup untuk pujian dan validasi publik sesungguhnya sedang menjalani laku yang sama dengan Oba: menggantikan esensi diri dengan sebuah topeng yang dirancang untuk memenuhi harapan dan kekaguman orang lain. Kamera, dalam hal ini, bukan lagi alat dokumentasi, melainkan cermin yang memantulkan ilusi diri yang ingin dipercayai oleh dunia.

Dazai menunjukkan bahwa proses memakai topeng ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap diri sendiri yang paling fundamental. Yozo Oba, sejak kecil, telah belajar bahwa untuk diterima, ia harus menjadi badut yang selalu menghibur. Ia gagal memahami “cara menjadi manusia” karena terlalu sibuk memerankan “manusia” versi orang lain.

Demikian pula, mereka yang terobsesi pada pencitraan di media sosial atau dalam situasi publik—seperti dalam penanggulangan bencana—telah mengasingkan diri dari pengalaman manusiawi yang autentik: rasa sakit, keraguan, empati tulus, dan kontemplasi diam. Sorotan kamera menuntut performa, bukan kehadiran; ia memerlukan gambar yang baik, bukan tindakan yang substantif. Dalam proses itu, hati nurani dan integritas personal dikorbankan demi tawa atau decak kagum sesaat.

Baca juga : Terjebak “Sultan” 

Kegagalan terbesar, sebagaimana diperlihatkan Dazai, adalah ketika topeng itu akhirnya menyatu dengan kulit, dan sang aktor kehilangan semua jejak diri aslinya. Manusia pencari sorotan kamera pada akhirnya tidak memiliki identitas di balik persona yang dipentaskannya. Ia menjadi hampa, terisolasi dalam kesepian yang paradoks di tengah pujian yang ramai.

Seperti Oba yang merasa “terasing dari kemanusiaan”, mereka pun terasing dari realitas dirinya sendiri. Hubungan dengan sesama menjadi transaksional, berdasarkan apa yang bisa diambil dari panggung tersebut, bukan atas dasar pengakuan timbal balik atas keberadaan yang utuh.

Dalam jangka panjang, kondisi ini melahirkan penderitaan eksistensial yang mendalam—sebuah “kegagalan sebagai manusia” yang sesungguhnya, di mana individu kehilangan kapasitas untuk hidup secara jujur dan bermakna.

Baca juga : Bendera dan Makna

Oleh karena itu, novel Ningen Shikkaku yang terbit di periode pasca-Perang Dunia II itu justru menjadi peringatan yang sangat relevan di era digital ini. Dazai mengajak kita merenung: menjadi manusia bukanlah tentang menjadi paling terang di bawah sorotan, melainkan tentang keberanian untuk berdiri dalam cahaya diri sendiri, sekalipun itu redup dan penuh cela. Kesuksesan sebagai manusia terletak pada kemampuan untuk menerima dan menghadapi kompleksitas diri tanpa filter atau panggung.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense