Dark/Light Mode

Bendera dan Makna

Jumat, 22 Agustus 2025 06:08 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Tujuh belas Agustus baru saja lewat. Bendera sudah diturunkan, barisan dibubarkan, pidato-pidato kenegaraan usai dibacakan. Tapi, di balik gegap gempita kemerdekaan, tak sedikit rakyat yang masih menggantungkan harapan pada kata-kata yang diulang saban tahun: adil, makmur, merdeka. Pertanyaannya, apakah proklamasi hanya hidup dalam upacara dan spanduk, atau sungguh menjadi kenyataan dalam kehidupan sehari-hari?

Setiap tahun, kita rayakan kemerdekaan dengan seragam dan sorak. Tapi, di sisi lain, utang rumah tangga naik, harga bahan pokok tidak menentu, dan jutaan warga masih hidup dalam ketidakpastian pekerjaan. Data terbaru Badan Pusat Statistik menunjukkan, 35 persen penduduk bekerja di sektor informal tanpa jaminan sosial, dan angka pengangguran terbuka di kalangan usia muda melonjak hingga 8,2 persen. Di manakah letak kemerdekaan itu bagi mereka?

Baca juga : Elite yang Lupa

Jika kemerdekaan adalah pembebasan dari ketakutan dan kesempitan, maka banyak rakyat sesungguhnya belum benar-benar bebas. Lihat saja lonjakan pengaduan ke OJK soal pinjaman online ilegal yang kembali meroket pasca-lebaran. Sementara itu, biaya pendidikan dan kesehatan terus naik, membuat warga kecil kian bergantung pada bantuan negara yang seringkali tak pasti datang. Kemerdekaan yang semestinya menyejahterakan justru terasa seperti utopia tahunan.

Pidato kenegaraan kembali menekankan pentingnya "sumber daya manusia unggul", tapi tanpa pembenahan serius terhadap akses pendidikan bermutu, janji itu terdengar seperti retorika kosong. Laporan Human Development Index Update oleh UNDP (2025) menempatkan Indonesia pada posisi stagnan dalam indikator kualitas pendidikan dasar.

Baca juga : Rakyat yang Terpisah

Pasal 34 UUD 1945 menegaskan, fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Tapi, dalam praktiknya, negara lebih sering berperan sebagai penonton pasar, bukan pelindung yang aktif. Di banyak tempat, warga harus berjuang sendiri mengatasi hidup yang makin mahal, ruang publik yang menyusut, dan perasaan ditinggalkan. Apakah ini wajah dari sebuah republik yang telah delapan dekade merdeka?

Kita butuh lebih dari sekadar parade. Kita butuh kehadiran negara yang berani memihak dan membela. Kemerdekaan bukan hanya seremonial tahunan, tapi harus menjadi pengalaman harian—yang terasa ketika orang tua tak cemas menyekolahkan anaknya, ketika buruh tak takut kehilangan kerja, dan ketika rakyat tak lagi hidup dalam ketimpangan struktural.

Baca juga : Janji yang Tertunda

Jika bendera hanya dikibarkan di Istana, tapi tak menyentuh gubuk dan gang-gang sempit, maka kita sedang merayakan simbol, bukan makna. Dan jika makna itu hilang, maka yang tersisa hanyalah negara yang sibuk berpesta sementara rakyat dibiarkan bertahan sendiri dalam sunyi dan letihnya kehidupan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.