Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Intensitas migrasi umat Islam ke negara-negara non-Muslim, khususnya ke Eropa, meningkat sejak dekade 1960-an. Negara-negara Muslim di Afrika yang pernah dijajah Prancis—seperti Aljazair, Maroko, Tunisia, dan Mesir—serta negara-negara Timur Tengah seperti Lebanon dan Palestina, memperoleh kemudahan akses untuk memasuki Prancis.
Dari sana, mereka kemudian menyebar ke berbagai negara Eropa lainnya, seperti Inggris, Jerman, Belanda, dan Belgia, bahkan hingga ke Benua Amerika.
Kemudahan tersebut juga diperoleh komunitas Muslim minoritas yang telah lama menetap dan berkembang di daratan Eropa. Mereka antara lain merupakan keturunan pasukan Muslim yang pernah menyeberang dan menguasai wilayah-wilayah Eropa seperti Spanyol, Sisilia, Italia, serta pulau-pulau kecil di kawasan Mediterania.
Baca juga : Dampak Globalisasi
Selain itu, terdapat pula sisa-sisa komunitas Muslim Turki Usmani yang pernah hidup “tiarap” pada masa Perang Dunia Pertama dan Kedua, yang kini tersebar di sejumlah wilayah Eropa Timur seperti Bulgaria, Chechnya, Serbia, dan Bosnia.
Faktor kolonialisme Inggris Raya, Belanda, dan Portugis juga berkontribusi terhadap migrasi Muslim dari Indonesia, Malaysia, Thailand Selatan, Brunei, serta dari negara-negara dengan populasi Muslim minoritas seperti Myanmar, Filipina, Singapura, dan Vietnam.
Motivasi eksodus umat Islam dari negeri asal mereka ke negara-negara non-Muslim didorong oleh beberapa faktor utama, antara lain pendidikan, ekonomi, politik, dan agama.
Baca juga : Fenomena Umat Berkepribadian Ganda
Dari sisi pendidikan, banyak keluarga Muslim berupaya mengejar ketertinggalan pendidikan anak-anak mereka dengan mengirim mereka ke negara-negara Eropa, Amerika Serikat, Kanada, dan Australia. Negara-negara tersebut diyakini memiliki sistem pendidikan yang lebih maju.
Putra-putri dari keluarga Muslim berada umumnya menempuh pendidikan di Barat dan, setelah kembali ke tanah air, sering menempati posisi sebagai birokrat atau aristokrat.
Pemerintah negara-negara Barat tidak menghalangi arus ini karena mereka juga memperoleh keuntungan ekonomi dan birokrasi dari negara-negara berkembang (underdeveloped countries).
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.