Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Dalam artikel terdahulu diceritakan bahwa malaikat jatuh ke Baitul Ma’mur dari ‘Arasy karena tinggi hati (al-‘uluw), dan Iblis terkutuk serta jatuh ke neraka karena kesombongan (istikbār). Kini giliran kita membicarakan manusia yang jatuh dari langit kebahagiaan ke bumi penderitaan akibat ketamakan (thama‘).
Adam diberikan kebebasan untuk menikmati apa pun yang ada di surga, kecuali satu larangan, yaitu mendekati pohon khuldi. Allah SWT. berfirman:
“Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat apa saja yang kamu kehendaki, tetapi janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang zalim.” (QS AlBaqarah [2]: 35)
Namun Adam dan istrinya tidak mampu mengindahkan ketentuan serta “birokrasi” Tuhan di surga akibat godaan Iblis. Adam dan Hawa tidak hanya mendekati pohon tersebut, tetapi juga memakan buahnya. Peristiwa ini menunjukkan bahwa ketamakan berujung pada perbuatan yang melanggar ketentuan (corruption).
Baca juga : Jejak Awal Korupsi: Keangkuhan
Akibat lebih lanjut dari pelanggaran itu, keduanya terusir dari surga kenikmatan dan diturunkan ke bumi penderitaan dalam keadaan yang menyedihkan. Allah SWT berfirman:
“Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” (QS AlBaqarah [2]: 36)
Seandainya Adam dan Hawa mampu mengendalikan diri dan tidak mendekati pohon khuldi, niscaya keduanya akan tetap abadi dalam kenikmatan surga. Namun karena daya tarik dan godaan Iblis begitu kuat, keduanya tergelincir. Setelah mendekati pohon tersebut, aurat mereka terbuka, dan mereka pun tiba-tiba berada di alam lain yang bernama bumi.
Di bumi inilah Adam dan Hawa berkembang biak sambil berusaha kembali ke tempat asal mereka di surga dengan menjalankan ketentuan Allah SWT. sebagaimana tertuang dalam Syariat Islam. Satu-satunya jalan untuk kembali ke alamat semula di surga adalah menjalani syariat secara baik, konsisten, dan penuh kesadaran.
Baca juga : Jejak Awal Korupsi: Kecemburuan
Allah SWT menghibur manusia dengan janji untuk kembali ke kampung halaman asalnya di surga setelah menyatakan penyesalan, bertobat, berdoa, dan mengikuti petunjuk-Nya sebagaimana termaktub dalam Kitab Suci. Harapan dan optimisme ini ditegaskan Allah SWT:
“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS AlBaqarah [2]: 37)
Drama kosmis yang mengisahkan kejatuhan anak manusia dari langit surga ke bumi penderitaan ini diperankan oleh Adam, Hawa, dan Iblis, dengan Allah SWT. sebagai Sang Sutradara.
Karena itu, kisah ini menjadi narasi besar dalam kehidupan makrokosmos maupun mikrokosmos. Akhir dari drama kosmis ini adalah ketika Sang Sutradara mempersilakan Adam dan Hawa kembali ke alamat semula di surga setelah menjalani prosedur dan ketentuan yang telah ditetapkan-Nya.
Baca juga : Motif Eksodus Muslim ke Negara Non-Muslim
Kesadaran atas pelanggaran yang dilakukan, disertai penyesalan yang tulus dan permohonan ampun yang sejati, akan mendatangkan ampunan serta pertolongan Allah SWT. Pada akhirnya, anak manusia akan kembali kepada-Nya:
Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Senin, 5 Januari 2026 dengan judul "Sosiologi Korupsi (3) Jejak Awal Korupsi: Ketamakan"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.