Dark/Light Mode

Sosiologi Korupsi (1)

Jejak Awal Korupsi: Kecemburuan

Sabtu, 3 Januari 2026 06:19 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Berawal ketika Tuhan mengumumkan rencana-Nya untuk menciptakan makhluk pendatang baru bernama manusia. Makhluk baru ini akan langsung ditunjuk sebagai khalifah, representasi Tuhan di bumi.

Para malaikat dan Iblis mempertanyakan kebijakan Tuhan tersebut. Alasan yang dikemukakan malaikat adalah bahwa manusia akan membuat kerusakan di bumi dan menumpahkan darah.

Baca juga : Motif Eksodus Muslim ke Negara Non-Muslim

Namun, sesungguhnya alasan itu bukan semata-mata seperti yang diungkapkan, melainkan dilatarbelakangi oleh rasa kecemburuan terhadap manusia sebagai pendatang baru yang langsung dipercaya menjadi khalifah. Hal ini dapat dipahami dari pernyataan malaikat: “…padahal kamilah yang senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” (QS Al-Baqarah/2:30).

Di sinilah para malaikat menyadari bahwa mereka telah melakukan kekeliruan, yakni mempertanyakan kebijakan Tuhan Yang Maha Kuasa. Kecemburuan ternyata merupakan sifat asasi setiap makhluk, tidak terkecuali malaikat. Kecemburuan inilah yang membuat malaikat melakukan “pelanggaran”, yaitu menyalahi kodratnya sebagai makhluk yang memiliki sifat kesetiaan penuh (jamāliyyah-rubūbiyyah), lalu menyeberang menjadi makhluk kritis (jalāliyyah-ulūhiyyah) yang mengkritisi kebijakan Tuhan.

Baca juga : Dampak Globalisasi

Sifat-sifat jamāliyyah-rubūbiyyah adalah sifat-sifat yang menggambarkan kelembutan, ketaatan, dan kemahapengasihan Tuhan. Sementara itu, sifat-sifat jalāliyyah-ulūhiyyah menggambarkan kemahaperkasaan dan kemahategaran Allah SWT.

Satu-satunya makhluk yang diberi kemampuan untuk mengaktualisasikan sekaligus menjadi focus penjelmaan (maẓhar) nama-nama dan sifat-sifat Tuhan hanyalah manusia. Dalam bahasa spiritual, hal ini disebut al-jam‘iyyah al-ilāhiyyah (keterpaduan sifat-sifat Ilahiyyah). Inilah rahasia mengapa manusia dipilih sebagai khalifah-Nya.

Baca juga : Fenomena Umat Berkepribadian Ganda

Makhluk-makhluk lain, termasuk malaikat, hanya mampu mengaktualisasikan dan menjadi maẓhar sifat-sifat jamāliyyah-Nya, karena mereka tidak memiliki kekuatan jalāliyyah, yakni kekuatan amarah (al-quwwah al-ghaḍabiyyah) dan kekuatan birahi (al-quwwah al-syahwatiyyah).

Apabila malaikat yang dikenal sebagai makhluk berkodrat jamāliyyah melakukan sikap kritis yang merupakan wilayah kodrat jalāliyyah, maka perbuatan tersebut dapat disebut sebagai perbuatan “menyimpang” (corrupt) atau “korupsi”. Sebagai akibatnya, sebagaimana disebutkan dalam hadis, Tuhan murka dan bersikap diam terhadap malaikat selama beberapa waktu.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.