Dark/Light Mode
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Jika malaikat pernah mengalami degradasi—turun meninggalkan ‘Arasy ke miniatur ‘Arasy di Baitul Ma’mur—lantaran melakukan penyimpangan adikodrati dari quwwah al-jamāliyyah menyeberang menjadi quwwah al-jalāliyyah, maka nasib Iblis lebih tragis lagi.
Karena keangkuhannya, Iblis secara terbuka melakukan pembangkangan (corruption) terhadap ketentuan Tuhan, yakni menolak untuk sujud kepada Adam sebagaimana diperintahkan kepadanya.
Padahal Allah SWT. telah menjelaskan: “Mengapa engkau menolak untuk sujud kepada Adam yang Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku?” (mā mana‘aka an tasjuda limā khalaqtu bi-yadayya, QS Shad [38]: 75).
Baca juga : Jejak Awal Korupsi: Kecemburuan
Allah SWT. menciptakan manusia dengan kapasitas keutuhan sifat Tuhan, yang memiliki kualitas kelembutan (nurturing / quwwah al-jamāliyyah–rubūbiyyah) dan kualitas ketegaran (struggling / quwwah al-jalāliyyah–ulūhiyyah). Berbeda dengan penciptaan makhluk-makhluk lain yang diciptakan Tuhan hanya dengan “satu tangan” (al-quwwah al-jamāliyyah).
Tuhan mempertanyakan sekaligus memperingatkan Iblis mengapa ia tidak mau bersujud: “Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”
Malaikat mempertanyakan kebijakan Tuhan karena menganggap diri mereka tinggi (al-‘ālin) setelah sekian lama mengabdi dan memuja Tuhan: “…padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” (QS Al-Baqarah [2]: 30).
Baca juga : Motif Eksodus Muslim ke Negara Non-Muslim
Sedangkan Iblis menolak bersujud kepada Adam karena kesombongan (al-istikbār): “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS Shad [38]: 75).
Jika malaikat hanya diturunkan dari ‘Arasy ke Baitul Ma’mur, maka Iblis yang nekat melakukan pelanggaran terbuka terhadap Tuhan bukan saja diusir dari surga ke neraka melalui bumi, tetapi juga dikutuk oleh Tuhan: “Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk.” (QS Shad [38]: 75).
Di sinilah kemahaadilan Tuhan: semakin besar pelanggaran yang dilakukan hamba-Nya, semakin besar pula sanksi yang harus diterimanya.
Baca juga : Dampak Globalisasi
Dasar makhluk picik, Iblis kemudian meminta kepada Tuhan agar diberi kesempatan hidup selama masa hidup manusia untuk menggoda manusia: “Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan.” Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat).” Iblis menjawab: “Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas di antara mereka.” (QS Shad [38]: 75).
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.