BREAKING NEWS
 

Geopolitik Indonesia Menghadapi Guncangan Geopolitik Global

Senin, 30 Maret 2026 07:36 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

 Sebelumnya 
Sementara itu dari sisi ­empiris, eskalasi konflik di Timur ­Tengah memiliki implikasi langsung terhadap stabilitas energi ­global. Kawasan ini menyumbang sekitar 30–35 persen pro­duksi ­minyak dunia, dengan Iran ­se­bagai salah satu ­produsen ­utama yang dalam kondisi ­normal mampu menghasilkan lebih dari 3 juta barel per hari. Jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz dilalui oleh sekitar 20 persen perdagangan minyak global setiap harinya.

Adsense

Ketika konflik meningkat membuat lonjakan harga minyak pun bukan sekadar kemung­kinan, melainkan pola berulang dalam setiap eskalasi konflik. Pada awal 2026, harga ­minyak global kembali bergerak di ­kisaran USD 95–105 per barel. Bagi Indonesia, yang masih mengimpor sekitar 60 persen kebutuhan minyaknya, kondisi ini menghadirkan tekanan serius terhadap APBN, khususnya pada pos subsidi energi yang dalam beberapa tahun terakhir telah melampaui Rp 300 triliun.

Baca juga : Menjaga Kedaulatan Nasional Di Tengah Perang Timur Tengah Gejolak Geopolitik Global

Maka dalam perspektif kea­dilan sosial, lonjakan harga energi tidak dapat dilihat semata sebagai persoalan fiskal, melainkan sebagai tantangan distribusi kesejahteraan. Data menunjukkan bahwa setiap kenaikan harga bahan bakar memiliki korelasi langsung dengan inflasi, ter­utama pada sektor transportasi dan bahan pangan. Dalam beberapa episode sebelumnya, kenaikan harga energi bahkan berkontribusi hingga 1–2 persen terhadap inflasi tahunan.

Bagi Indonesia sebagai ­negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, situasi ini memiliki implikasi langsung terhadap harga barang dan stabilitas distribusi. Oleh karena itu, ­penguatan konektivitas ­nasional menjadi keharusan strategis ­untuk ­menjaga keseimbangan pem­bangunan antarwilayah. Di sisi lain, gejolak geopolitik turut memengaruhi stabilitas sektor keuangan nasional. Dalam ­situasi ketidakpastian global, arus modal cenderung keluar dari negara berkembang, menekan nilai tukar rupiah.

Baca juga : Kewaspadaan Badai Geopolitik Indonesia Di Tengah Pusaran Konflik Global

Menghadapi kompleksitas tersebut, Indonesia mem­butuhkan strategi terpadu yang tidak hanya kuat secara tekno­kratis, tetapi juga ber­akar pada nilai-nilai Panca­sila. Dalam sektor ­energi, per­cepatan ­transisi ­menuju energi ter­barukan ­menjadi langkah yang tidak terelakkan. Saat ini, ­bauran ­energi terbarukan Indonesia masih berada di kisaran 13–14 persen, jauh dari target nasional.

Pada saat yang sama, ­penguatan struktur ekonomi do­mestik harus menjadi prio­ritas. Hilirisasi industri telah menunjukkan hasil positif, tetapi perlu diperluas ke sektor lain seperti pertanian dan manufaktur. Ketahanan pangan menjadi isu ­krusial, mengingat Indonesia masih bergantung pada impor sejumlah komoditas strategis. Dalam situasi krisis global, ketergan­tungan ini dapat ­menjadi titik lemah yang berdampak langsung pada stabilitas harga dan kesejah­teraan masyarakat.

Baca juga : Puasa Dan Karakter Pancasila Di Tengah Ketahanan Geopolitik Indonesia

Dalam dimensi pertahanan dan diplomasi, Indonesia juga dituntut untuk memainkan peran yang lebih aktif. Penguatan kapasitas pertahanan, terutama dalam pengawasan maritim, menjadi penting mengingat posisi strategis Indonesia di jalur perdagangan global. Namun, kekuatan tersebut harus tetap sejalan dengan prinsip perdamaian. Di sisi lain, diplomasi bebas aktif memberikan ruang bagi Indonesia untuk mendorong dialog dan deeskalasi konflik di berbagai forum internasional.

Di balik setiap krisis ­selalu tersimpan peluang untuk memperkuat fondasi bangsa. Dengan menjadikan Pancasila sebagai dasar strategi, Indonesia memiliki arah yang jelas untuk menghadapi ketidakpastian global—tidak sekadar bertahan, tetapi juga tumbuh menjadi kekuatan yang mampu menjaga keseimbangan, keadilan, dan kedaulatan di tengah dunia yang terus bergejolak. 

Prof. Dr. Drs. Ermaya ­Suradinata, SH, MH, MS, adalah Pemerhati ­Geopolitik, dan Geostrategi, serta ­Manajemen Pemerintahan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense