BREAKING NEWS
 

Pancasila Sebagai Tameng Pelindung Bangsa Dalam Menghadapi Konflik Geopolitik Dunia

Senin, 27 April 2026 07:26 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

RM.id  Rakyat Merdeka - Dunia sedang bergerak dalam irama yang tidak ­tenang. Perang, rivalitas ekonomi, perebutan pengaruh kawasan, krisis energi, hingga pertarungan narasi di ruang digital menjadi wajah baru tata dunia kontemporer. Perang di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat dan Israel, serta konflik berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina, menunjukkan bahwa geopolitik modern tidak lagi berdiri sebagai persoalan yang jauh dari kehidupan sehari-hari.

Perkara itu menjalar ke harga pangan, nilai tukar mata uang, stabilitas energi, arus investasi, bahkan memengaruhi psikologi sosial masyarakat melalui banjir informasi yang datang tanpa jeda. Dalam dunia yang saling terhubung, tidak ada negara yang benar-benar berada di luar lingkar dampak konflik global, termasuk Indonesia.

Baca juga : Relevansi KAA Dalam Pusaran Geopolitik Global Yang Tak Menentu

Sebagai negara besar dengan posisi strategis di persim­pangan samudra dan jalur perdagangan internasional, Indonesia memiliki kepentingan langsung terhadap stabilitas dunia. Namun, ­kepentingan yang lebih ­mendasar bukan sekadar ­menjaga pertumbuhan ­ekonomi atau keamanan kawasan, ­melainkan memastikan bahwa bangsa ini tidak kehi­langan arah ketika dunia ke­hilangan keseimbangan.

Dalam situasi seperti itulah Pancasila menemukan relevansi­nya yang paling nyata. Ia bukan sekadar teks konstitusional yang dihafal di ruang kelas, melainkan fondasi hidup berbangsa yang mampu menjadi tameng ­pelindung ketika ­gelombang geopolitik datang silih berganti. Pancasila memiliki kekuatan ­pertama sebagai filter ideologis di tengah derasnya arus globali­sasi. Dunia ­modern membuka ­ruang masuknya ber­bagai ­gagasan, nilai, dan kepen­tingan dari luar. Sebagian mem­bawa kemajuan, sebagian lain ­mengandung ancaman yang halus namun berbahaya. Radikalisme, ekstremisme identitas, liberalisme tanpa batas sosial, materialisme yang menyingkirkan etika, hingga politik kebencian dapat masuk melalui media sosial, hiburan populer, bahkan melalui percakapan sehari-hari.

Baca juga : Indonesia Menjaga Stabilitas Geopolitik Global Di Era Presiden Prabowo

Di titik itulah, Pancasila bekerja sebagai sistem imun nasional. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengingatkan bahwa pembangunan bangsa tidak boleh tercerabut dari moralitas. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menolak segala bentuk kekerasan, diskriminasi, dan penghinaan terhadap martabat manusia. Sila Persatuan Indonesia menegaskan bahwa perbedaan bukan alasan untuk tercerai-berai.

Kekuatan kedua Panca­sila tampak dalam arah politik luar negeri Indonesia. Sejak awal kemerdekaan, Indonesia memilih jalan bebas aktif, sebuah sikap yang bukan netral pasif, melainkan kebebasan menentukan sikap berdasarkan kepentingan nasional dan nilai kemanusiaan. Di tengah rivali­tas negara besar, pilihan ini menjadi sangat ­penting. Dunia sedang menyaksikan bagaimana blok-blok kekuatan berusaha menarik negara lain ke dalam orbit kepentingannya. Tekanan diplomatik, insentif ekonomi, bahkan propaganda informasi menjadi instrumen yang lazim digunakan.

Baca juga : Geopolitik Indonesia Menghadapi Guncangan Geopolitik Global

Maka Indonesia memerlukan keteguhan agar tidak sekadar menjadi objek perebutan ­pengaruh. Pancasila memberikan dasar etik dan filosofis untuk itu. Nilai keadilan sosial mendorong kebijakan luar negeri yang berpihak pada perdamaian dan kesejahteraan bersama, bukan dominasi satu pihak atas pihak lain. Nilai kemanusiaan mendorong Indonesia bersuara terhadap penderitaan sipil di wilayah konflik. Nilai persatuan memberi kesadaran bahwa stabilitas regional adalah syarat kemajuan nasional.

Adsense

Oleh karena itu, ketika Indonesia memilih diplomasi damai, mendorong dialog, atau berperan dalam mediasi, sesungguhnya yang bekerja bukan hanya stra­tegi negara, tetapi jiwa Pancasila itu sendiri. Di sinilah Pancasila berfungsi sebagai jangkar stabilitas nasional. Sila Persatuan Indonesia harus dibaca ulang ­sebagai strategi keamanan ­nasional berbasis kohesi sosial. Bangsa yang bersatu lebih sulit dipecah melalui operasi pengaruh dari luar.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense