BREAKING NEWS
 

Pancasila Sebagai Tameng Pelindung Bangsa Dalam Menghadapi Konflik Geopolitik Dunia

Senin, 27 April 2026 07:26 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

 Sebelumnya 
Sila Kerakyatan yang Di­pimpin oleh Hikmat Kebijak­sanaan dalam Permusyawaratan/Per­wakilan mengajarkan bahwa perbedaan kepen­tingan harus diselesaikan melalui dialog, bukan permusuhan. Demo­krasi Indonesia akan kokoh jika di­bangun di atas budaya ­musyawarah, bukan sekadar kompetisi tanpa batas. Ketika masyarakat mampu berdiskusi tanpa saling meniadakan, maka fondasi negara menjadi jauh lebih kuat daripada sekadar kekuatan koersif.

Pancasila juga memberi Indo­nesia peluang memainkan peran moral di panggung internasional. Dunia saat ini sering terjebak pada logika kekuatan: siapa ­paling kuat, dia paling menentukan. Namun sejarah menunjukkan bahwa dominasi militer tidak selalu menghasilkan perdamaian. Banyak konflik ­justru berkepanjangan karena para pihak lebih sibuk menunjukkan superioritas, daripada mencari jalan keluar.

Baca juga : Relevansi KAA Dalam Pusaran Geopolitik Global Yang Tak Menentu

Indonesia dapat menawarkan pendekatan berbeda, yakni diplomasi yang menempatkan dialog, penghormatan hukum internasional, dan kerja sama sebagai jalan utama. Pendekatan ini bukan romantisme kosong. Dalam banyak forum regional, terutama di Asia Tenggara, cara berdialog telah menjadi instrumen penting meredakan ketegangan. Indonesia memiliki modal historis dan kultural untuk itu. Bangsa yang lahir dari keberagaman dan mampu merawat persatuan memiliki pengalaman berharga tentang seni hidup bersama.

Semua itu hanya mungkin bila Pancasila tidak berhenti sebagai slogan seremonial. Ia harus hadir dalam pendidikan, birokrasi, ekonomi, dan perilaku elite politik. Generasi muda perlu memahami bahwa Pancasila bukan warisan usang, melainkan perangkat navigasi masa depan. Pemerintah pusat dan daerah perlu menerjemahkan nilai-nilainya ke dalam tata kelola yang adil, bersih, dan berpihak pada rakyat. Dunia usaha perlu menempatkan keadilan sosial sebagai orientasi pembangunan. Media dan ruang digital perlu menjadikan etika publik sebagai pagar kebebasan berekspresi.

Baca juga : Indonesia Menjaga Stabilitas Geopolitik Global Di Era Presiden Prabowo

Negara dapat bertahan dari guncangan eksternal jika rumah­nya kokoh. Pancasila adalah fondasi rumah ke­bangsaan itu. Ia menjaga agar Indonesia tidak mudah dipecah, tidak mudah dibeli, dan tidak mudah diarahkan oleh kepen­tingan asing. Dalam dunia yang semakin gaduh, Pancasila adalah suara jernih yang mengingatkan kita siapa diri kita.

Karena itu, ketika geopolitik dunia memanas dan masa depan terasa kabur, Indonesia se­sungguhnya telah memiliki tameng yang tidak dimiliki ­banyak bangsa lain: sebuah ­falsafah hidup yang lahir dari sejarah, penderitaan, kebijaksanaan, dan cita-cita bersama. Tameng ini bernama Pancasila. Selama ia dijaga bukan hanya di bibir, tetapi di dalam tindakan, Indonesia akan tetap berdiri tegak di tengah badai zaman.

Baca juga : Geopolitik Indonesia Menghadapi Guncangan Geopolitik Global

Prof. Dr. Drs. Ermaya ­Suradinata, SH, MH, MS, adalah Pemerhati Geopolitik, dan Geostrategi, serta Manajemen Pemerintahan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense