Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Agama diturunkan Tuhan untuk manusia, bukan untuk Tuhan. Agama semestinya menjadi pandangan hidup (way of life) bagi para pemeluknya. Apa jadinya jika agama dan pemeluknya dipisahkan oleh jurang kesenjangan? Apakah masih dapat disebut agama jika tanpa pemeluk? Mungkin hanya menjadi mitos. Sebaliknya, apakah manusia tanpa agama masih layak disebut manusia? Mungkin justru menjadi monster.
Lihatlah pemandangan di sekitar kita, atau mungkin lihatlah diri kita sendiri. Apa yang diajarkan agama, dan apa yang dilakukan para pemeluknya? Apa yang dikatakan agama, dan apa yang kita praktikkan? Semakin jauh jarak antara agama dan pemeluknya, semakin gagal pula kita menciptakan lingkungan pembangunan yang berbasis moral kemanusiaan.
Lingkungan kehidupan umat beragama saat ini semakin teruji—bahkan, untuk tidak mengatakan semakin rusak. Memang, semuanya telah berubah. Salah satu penyebabnya ialah masa depan datang lebih cepat daripada kesiapan kita menyambutnya. Apa yang semestinya baru hadir lima puluh tahun lagi, kini sudah masuk ke kamar-kamar kita.
Baca juga : Ketika Agama Abai Terhadap Kaum Dhuafa
Apa jadinya jika masa depan datang lebih awal dari perkiraan? Pertanyaan ini pernah dianalisis secara cermat oleh Prof. Clifford Geertz dalam bukunya The Observed. Geertz membayangkan suatu masyarakat yang mengalami apa yang disebut split personality atau kepribadian ganda. Sayangnya, antropolog agama senior dari Amerika Serikat yang melakukan penelitian doktornya di Indonesia ini wafat sebelum menyaksikan prediksinya menjelma menjadi kenyataan.
Apa yang pernah diprediksi Geertz kini banyak melanda umat beragama. Antara konsep ajaran dan realitas sosial semakin berjarak, sehingga tidak jarang kita menemukan orang mengalami disorientasi dan kepribadian ganda dalam kehidupan beragama.
Suasana hipokrit dan antagonistik banyak dialami masyarakat dewasa ini. Di satu sisi, seseorang harus berpegang teguh pada ajaran agamanya, tetapi di sisi lain, realitas sosial kehidupannya berubah begitu cepat. Akibatnya, jarak antara agama dan pemeluknya semakin melebar.
Baca juga : Thawaf, Simbolik Penyucian Diri
Sebagai manusia beragama di abad milenium ini, kita sering memandang agama terlalu normatif: lebih bersifat dogmatis, doktrinal, membatasi, berorientasi ke masa lampau, konservatif, statis, tekstual, emosional, serta lebih kualitatif dengan pendekatan deduktif.
Sementara itu, kehidupan masyarakat modern cenderung rasional, bahkan liberal; membebaskan, berorientasi ke masa depan, dinamis dan mobil, canggih (sophisticated), lebih kuantitatif, serta menggunakan pendekatan induktif.
Tentu saja, memecahkan persoalan ini bukan perkara mudah karena dimensinya sangat kompleks. Yang pasti, umat beragama dituntut untuk segera melakukan penyerasian antara tuntunan agama dan tuntutan kehidupan nyata di masyarakat. Laju globalisasi yang dipicu perkembangan sains, teknologi, media informasi, telekomunikasi, dan transportasi yang begitu canggih telah melahirkan multiple shock—kekagetan multidimensi—di tengah masyarakat.
Kita perlu melahirkan pemikiran besar baru untuk mengevaluasi arah kehidupan manusia zaman sekarang. Semakin jauh jarak antara umat dan ajaran agamanya, semakin tidak berhasil pula dakwah dan pembinaan keagamaan kita.
Sebaliknya, semakin dekat—bahkan menyatu—antara agama dan pemeluknya, semakin berhasil pula misi dakwah yang dijalankan. Agama harus membumi agar mampu melangitkan kembali anak manusia.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Selasa, 23 Juni 2026 dengan judul "Ketika Agama Berjarak Dengan Pemeluknya"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.